JAKARTA – Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat elektabilitas Partai Gerindra turun menjadi 16,9 persen dalam survei Juli 2026. Meski masih memimpin, peluang Gerindra menjadi partai nomor satu dinilai melemah jika Pemilu digelar sekarang.
Gerindra tetap berada di posisi teratas, diikuti PDI Perjuangan 11,7 persen, Golkar 9,6 persen, dan Demokrat 8,1 persen. Sebanyak 25,9 persen responden masih belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.
“Peluang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sebagai partai nomor satu melemah jika pemilihan umum (Pemilu) diadakan sekarang. Padahal Gerindra adalah partai presiden yang bisa dan akan maju kembali sebagai calon presiden,” tulis laporan SMRC, Selasa (4/8/26).
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menjelaskan perolehan suara Gerindra sempat meningkat setelah Pemilu 2024. Elektabilitas partai itu naik dari 13,2 persen menjadi 23,3 persen pada November 2025, lalu mencapai 29,3 persen pada Februari-Maret 2026.
Namun, elektabilitas Gerindra turun drastis menjadi 16,9 persen pada survei Juli 2026. Penurunan itu menjadi perhatian karena Gerindra merupakan partai presiden.
“Elektabilitas Gerindra dalam 9 bulan terakhir konsisten paralel dengan turunnya evaluasi positif publik atas kinerja Presiden Prabowo, serta merosotnya sentimen positif atas kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, dan program-program prioritas presiden: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP),” ujar Deni.
SMRC juga mencatat tren penurunan pada sejumlah partai lain. Elektabilitas PDIP turun dari 16,7 persen pada Pemilu 2024 menjadi 11,7 persen, sedangkan Golkar turun dari 15,3 persen menjadi 9,6 persen.
Sementara itu, Demokrat relatif stabil di kisaran 8,1 persen. PKB, PKS, NasDem, dan PAN mengalami fluktuasi, tetapi secara umum menunjukkan kecenderungan menurun.
“Elektabilitas PKB, PKS, NasDem, dan PAN berfluktuasi sejak Pemilu 2024, namun secara umum cenderung menurun,” ungkap Deni.
Survei nasional SMRC dilakukan pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang dipilih secara acak. Survei memiliki margin of error sebesar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

