Jakarta – Penantian selama 20 tahun akhirnya berbuah. Petani di Desa Susukan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini mendapat saluran irigasi perpipaan sepanjang 2.400 meter dari Kementerian Pertanian.
Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan air yang selama ini menghambat aktivitas pertanian. Dengan pasokan air yang lebih terjamin, petani dapat mempertahankan kegiatan tanam, termasuk saat musim kemarau.
Bantuan itu diterima Kelompok Tani Sumber Rezeki Tani yang selama dua dekade menghadapi persoalan akses air untuk mengairi lahan pertanian.
Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki Tani M Saeproni mengatakan, pembangunan irigasi tersebut menjadi harapan baru bagi para petani setelah persoalan air berlangsung selama bertahun-tahun.
“Kami berterima kasih sekali kepada Bapak Presiden, terutama khusus kepada Bapak Mentan yang telah memberikan bantuan berupa irpom yang panjangnya 2.400 meter. Ini kami impi-impikan dari 20 tahun yang lalu,” ujar Saeproni, Sabtu (22/8).
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan musim tanam. Tanpa pasokan yang cukup, petani berisiko kehilangan kesempatan menanam ketika kemarau tiba.
Pembangunan irigasi di Cirebon ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat infrastruktur air pertanian. Langkah tersebut juga dilakukan untuk menjaga lahan tetap produktif di tengah ancaman kekeringan dan perubahan iklim.
Pada 2026, Kementan menargetkan pembangunan 89.600 unit kegiatan infrastruktur air yang diproyeksikan mendukung pengairan sekitar 2,1 juta hektare lahan pertanian.
Program itu mencakup pembangunan 17.400 unit Irigasi Perpompaan dan 3.500 unit Irigasi Perpipaan. Selain itu, pemerintah menargetkan 56.000 unit pompanisasi yang diproyeksikan melayani sekitar 1,1 juta hektare lahan pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tidak ingin petani kehilangan musim tanam akibat kekurangan air.
“Kita tidak boleh membiarkan petani kehilangan musim tanam karena kekurangan air. Karena itu pemerintah memperkuat irigasi, pompanisasi, embung, hingga rehabilitasi jaringan irigasi agar air sampai ke lahan pertanian,” ujar Amran.
Menurut dia, penguatan infrastruktur air menjadi salah satu langkah menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Amran menilai ketersediaan air menjadi faktor penentu produksi pertanian. Karena itu, pemerintah mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur pengairan agar petani dapat terus menanam dan meningkatkan indeks pertanaman.
“Air adalah faktor penentu produksi. Karena itu, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memastikan sawah tetap mendapat pasokan air sehingga petani bisa terus tanam dan meningkatkan indeks pertanaman,” katanya.
Bagi petani Desa Susukan, pembangunan jaringan irigasi sepanjang 2,4 kilometer ini menjadi jawaban atas persoalan yang telah mereka hadapi selama 20 tahun. Tantangan berikutnya adalah memastikan infrastruktur tersebut benar-benar berfungsi menjaga pasokan air ke lahan saat musim kemarau.

