JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan utilisasi industri pengolahan kopi nasional meningkat dari sekitar 51 persen pada 2025 menjadi 86,6 persen pada 2029. Target tersebut didorong oleh kapasitas terpasang industri yang mencapai sekitar 1,81 juta ton.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan realisasi produksi industri pengolahan kopi pada 2025 baru mencapai sekitar 928 ribu ton. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang pertumbuhan yang signifikan dalam pemanfaatan kapasitas industri pengolahan kopi nasional.
“Peningkatan utilisasi menjadi salah satu fokus kebijakan kami. Kita ingin memastikan kapasitas industri yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Untuk itu, penguatan pasokan bahan baku, SDM, teknologi, riset dan pengembangan, serta akses pasar harus dilakukan secara terintegrasi,” kata Putu dikutip dari laman resmi Kemenperin, Selasa (8/9/26).
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memiliki fondasi kuat untuk mengembangkan industri kopi dari sisi ketersediaan bahan baku, potensi pasar domestik, dan peluang ekspor.
Indonesia merupakan produsen biji kopi terbesar keempat dunia dengan produksi sekitar 834 ribu ton pada 2025, sementara produk kopi olahan Indonesia telah menembus lebih dari 80 negara.
“Kopi merupakan salah satu komoditas yang memiliki kekuatan dari hulu hingga hilir. Tantangan kita ke depan adalah memastikan kekuatan tersebut dapat dikonversi menjadi nilai tambah yang lebih besar melalui penguatan industri pengolahan, inovasi produk, peningkatan produktivitas, dan perluasan akses pasar,” ujar Agus.
Dari sisi perdagangan, Indonesia tercatat sebagai eksportir kopi premix terbesar di dunia pada 2025 dengan nilai ekspor USD 454,7 juta atau menguasai 17,54 persen pangsa pasar global.
Untuk kopi instan, Indonesia menempati lima besar negara eksportir dunia dengan nilai ekspor USD 225 juta dan menguasai 5,88 persen pangsa pasar global.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar (Mintemgar) Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan perkembangan industri pengolahan kopi nasional terlihat dari pemanfaatan bahan baku kopi dalam negeri, penerapan teknologi dan mesin, serta diversifikasi produk.
“Kunjungan ini memperlihatkan bagaimana industri kopi nasional terus berkembang dari sisi pengolahan bahan baku, pemanfaatan teknologi, hingga diversifikasi produk. Kemampuan industri untuk mengolah kopi menjadi berbagai produk dengan nilai tambah menunjukkan bahwa kita memiliki potensi besar untuk terus memperkuat industri kopi dari hulu hingga hilir,” ujar Merrijantij.
Hal tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) ke PT Santos Jaya Abadi di Semarang, Jumat (4/9), yang menjadi momentum untuk melihat perkembangan industri pengolahan kopi sekaligus memperkuat sinergi pemerintah dan pelaku industri.
Kemenperin juga mendorong penguatan standardisasi, keamanan pangan, traceability, sertifikasi internasional, sustainability, dan branding produk untuk menghadapi peluang pasar global. Pengembangan diarahkan pada sejumlah produk, antara lain roasted bean, kopi instan, premiks, specialty coffee, kopi kapsul, drip coffee, dan ground coffee, termasuk produk fungsional seperti kopi organik dan decaf.

