JAKARTA – Jagat media sosial belakangan ini dibikin heboh oleh sebuah video karnaval yang tak biasa. Alih-alih menampilkan parade budaya yang ceria, pertunjukan di Simbang Kulon Night Carnaval, Pekalongan, justru bikin warganet merinding. Pasalnya, salah satu tim penampil membawakan konsep visual yang dinilai sangat lekat dengan simbol dan ritual satanik.
Setelah videonya viral dan menuai banyak hujatan, pihak penampil akhirnya angkat bicara. Muhammad Ahid, perwakilan dari performer Tim Simone, secara terbuka menyampaikan permohonan maafnya kepada publik.
“Kami Kurang Literasi”: Permintaan Maaf Tim Simone
Dikutip dari unggahan Threads Suara Merdeka Network Pekalongan pada Senin (14/9), Ahid mengaku sangat menyesali konsep penampilan timnya yang memicu kegaduhan. Ia menyadari bahwa visual yang mereka bawa telah menyinggung banyak pihak.
“Kami mohon maaf. Kami menyesal. Kami akui kurang literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak yang tersinggung atas performa kami di atas panggung,” ungkap Ahid secara blak-blakan.
Fakta Kostum Baphomet: Ternyata Sewaan dari Malang
Banyak warganet yang penasaran, dari mana ide liar kostum tersebut berasal? Usut punya usut, kostum menyeramkan itu ternyata bukan hasil produksi sendiri.
Ahid menjelaskan bahwa timnya sekadar menyewa kostum dari Malang karena tergiur dengan desainnya yang anti-mainstream. “Kita menyewa dari Malang. Referensinya murni karena melihat kostum unik, ya kita sewa dan tiru. Intinya begitu,” terangnya.
Sementara untuk urusan koreografi, gerakan-gerakan mistis di atas panggung rupanya adalah hasil modifikasi dari berbagai tontonan YouTube. Tim Simone menggabungkan gaya pertunjukan karnaval dari daerah Malang dan Magelang tanpa mendalami makna di balik visual tersebut.
Nasib Kambing di Panggung: Buat Tumbal atau Acara Rahatan?
Satu hal yang paling bikin netizen gagal fokus adalah kehadiran seekor kambing hidup dalam parade tersebut. Banyak teori konspirasi bermunculan, mulai dari adegan penyembelihan hingga tumbal sekte.
Namun, Ahid menepis keras rumor tersebut. Kambing itu dibawa murni sebagai persiapan konsumsi untuk acara makan-makan (rahatan) internal tim setelah lelah mengikuti karnaval.
“Kambing itu memang dari kami untuk acara rahatan setelah acara selesai. Seperti klarifikasi di medsos, tidak ada ritual apa pun. Kambing murni untuk dimakan bareng-bareng (rahatan),” tegas Ahid.
Mengapa Visualnya Bikin Netizen Merinding?
Bagi yang belum menonton videonya, akun Threads @al.imansyah sempat membagikan cuplikan suasana karnaval tersebut. Para performer tampil mengenakan jubah putih menjuntai lengkap dengan penutup kepala kerucut. Mereka berjalan mengelilingi sebuah peti, diiringi musik gelap yang bikin suasana makin mencekam.
Beberapa elemen visual yang bikin publik langsung mengasosiasikannya dengan satanisme antara lain:
-
Cosplayer Berkepala Kambing: Ada satu penampil dengan kostum tubuh manusia berkepala kambing, yang oleh warganet langsung disamakan dengan sosok Baphomet (figur antropomorfik yang sering dikaitkan dengan sejarah okultisme).
-
Simbol Pentagram Terbalik: Munculnya lambang yang secara global memang sering diasosiasikan dengan satanisme modern atau pergerakan Church of Satan.
Meski dalam budaya pop modern makna Baphomet dan pentagram bisa sangat beragam, penempatan simbol-simbol ini dalam sebuah karnaval lokal tanpa konteks yang jelas wajar saja memicu tanda tanya besar.
Tuai Hujatan: Dari Kritik Konsep Hingga Isu Syirik
Meski sudah ada klarifikasi, jejak digital terlanjur memancing beragam reaksi pedas dari warganet. Banyak yang menyayangkan bagaimana sebuah tim bisa menyewa kostum se-ekstrem itu tanpa research (riset) mendalam soal maknanya.
“Katanya kostum cuma sewa di Malang. Kalau bikin parade cuma ngikut yang heboh, sekelas karnaval sekolah aja harus tahu tema dan pesannya apa. Masa alasannya enggak tahu kalau itu satanic? Ini antara bodoh atau sekadar cari alasan,” kritik pedas dari akun @ausesilia.
Tak cuma soal estetika, beberapa warganet juga menyoroti dari kacamata agama dan menganggap pertunjukan ini kelewat batas karena menyerempet perbuatan syirik.
“Lomba dalam perbuatan dosa syirik, mereka pemenangnya. Naudzubillah, Ya Allah,” keluh salah satu warganet di kolom komentar.
Kejadian di Simbang Kulon Night Carnaval ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi para kreator karnaval di masa depan. Menampilkan sesuatu yang unik dan beda memang penting, tapi literasi budaya dan pemahaman konsep di balik sebuah karya jauh lebih krusial agar tidak berakhir menjadi blunder di ruang publik.

