Boyolali, Rasional.co – Petani di Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah, kini dapat memanfaatkan sekitar 90% lahan pertanian saat musim kemarau. Kondisi tersebut berubah setelah mereka mendapatkan akses air dan dukungan sarana pertanian sejak akhir 2024.
Sebelumnya, keterbatasan air membuat petani hanya mampu menanami sekitar 20% lahan selama musim kemarau. Sebagian besar lahan terpaksa tidak digarap hingga musim penghujan tiba.
Perubahan itu dirasakan Khairul Huda, petani yang mengelola lahan sekitar empat hektare. Tanpa akses irigasi, lahannya hanya dapat ditanami ketika curah hujan mencukupi.
“Saat musim kemarau kami hanya mampu menanami sekitar 20 persen lahan. Selama enam bulan berikutnya kami mengalami kerugian karena tidak bisa bercocok tanam,” kata Khairul.
Khairul kemudian bersama puluhan petani membentuk Kelompok Tani Ngudi Makmur untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Kelompok itu selanjutnya mendapatkan pendampingan dari Pertamina melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB).
Melalui PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Soemarmo, Pertamina mulai memberikan dukungan kepada kelompok tani tersebut sejak akhir 2024.
Dukungan itu antara lain berupa pembangunan dua sumur air, sarana dan prasarana pertanian, serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang digunakan sebagai sumber energi untuk mengoperasikan pompa air.
Dampaknya mulai terlihat pada tahun pertama pendampingan. Luas lahan yang dapat ditanami saat kemarau meningkat dari sekitar 20% menjadi 60%.
Memasuki tahun kedua, sekitar 90% lahan sudah dapat dimanfaatkan untuk penanaman. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya menganggur selama sebagian musim kemarau kini dapat kembali digunakan untuk kegiatan pertanian.
Pengembangan kelompok tani juga diperluas ke sektor peternakan. Petani mengembangkan budidaya hewan ternak secara berkelompok sekaligus memanfaatkan gulma yang memenuhi Waduk Cengklik sebagai pakan alternatif.
Pemanfaatan gulma tersebut memberikan sumber nilai ekonomi tambahan bagi kelompok tani sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan di sekitar waduk.
PLTS juga membuat kelompok tani tidak sepenuhnya bergantung pada listrik konvensional untuk mengoperasikan pompa air. Energi surya digunakan untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan.
Khairul mengatakan berbagai dukungan tersebut mulai berdampak terhadap kondisi ekonomi petani.
“Manfaat yang diberikan Pertamina sangat banyak dan benar-benar kami rasakan. Dampaknya sangat besar terhadap perekonomian kami. Dulu kami sangat kesulitan sebagai petani, sekarang alhamdulillah kehidupan kami semakin sejahtera,” ujarnya.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan program DEB dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT).
Menurut dia, pemanfaatan energi terbarukan dalam program tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyediakan akses energi yang lebih ramah lingkungan.
“DEB tak sekadar menghadirkan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian desa melalui sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan,” kata Baron.
Bagi petani, perubahan dari 20% menjadi 90% lahan yang dapat ditanami saat kemarau berarti semakin banyak lahan yang bisa diolah dan bermanfaat mendorong pendapatan masyarakat desa ketika musim kering berlangsung.

