Close Menu
rasional.corasional.co
    What's Hot

    Kemenag Buka Beasiswa Zakat 2026, Full Funded hingga 8 Semester

    September 1, 2026

    Harga Patokan Ekspor Emas Naik 7,87 Persen, Ini Deretan Penyebabnya!

    September 1, 2026

    Dukung B50 & Hemat Devisa Rp7,1 Triliun, Gasifikasi Batubara Dikebut Hasilkan Metanol

    September 1, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Kemenag Buka Beasiswa Zakat 2026, Full Funded hingga 8 Semester
    • Harga Patokan Ekspor Emas Naik 7,87 Persen, Ini Deretan Penyebabnya!
    • Dukung B50 & Hemat Devisa Rp7,1 Triliun, Gasifikasi Batubara Dikebut Hasilkan Metanol
    • Tak Punya Sawah, Mentan Amran Beri Buruh Tani Karawang “Combine Harvester”
    • Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin
    • PSG-PHA Unas Diluncurkan, Soroti Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online
    • Film Sekuel “GJLS: Berapi-Api” Siap Tayang 5 November 2026, Rigen Rakelna Bocorkan Konflik yang Makin Panas
    • Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Akhir Perjalanan Sang Legenda
    Facebook X (Twitter) Instagram
    rasional.corasional.co
    Login
    Selasa, September 1
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    rasional.corasional.co
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    Beranda » Intip Langkah Jitu Petani Boyolali Siasati Kemarau
    Ekonomi

    Intip Langkah Jitu Petani Boyolali Siasati Kemarau

    Bayu PratamaBy Bayu PratamaAgustus 19, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Telegram Copy Link
    .
    Ilustrasi petani memanfaatkan irigasi pertanian (Sumber: Pertamina)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Boyolali, Rasional.co – Petani di Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah, kini dapat memanfaatkan sekitar 90% lahan pertanian saat musim kemarau. Kondisi tersebut berubah setelah mereka mendapatkan akses air dan dukungan sarana pertanian sejak akhir 2024.

    Sebelumnya, keterbatasan air membuat petani hanya mampu menanami sekitar 20% lahan selama musim kemarau. Sebagian besar lahan terpaksa tidak digarap hingga musim penghujan tiba.

    Perubahan itu dirasakan Khairul Huda, petani yang mengelola lahan sekitar empat hektare. Tanpa akses irigasi, lahannya hanya dapat ditanami ketika curah hujan mencukupi.

    “Saat musim kemarau kami hanya mampu menanami sekitar 20 persen lahan. Selama enam bulan berikutnya kami mengalami kerugian karena tidak bisa bercocok tanam,” kata Khairul.

    Khairul kemudian bersama puluhan petani membentuk Kelompok Tani Ngudi Makmur untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Kelompok itu selanjutnya mendapatkan pendampingan dari Pertamina melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB).

    Melalui PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Soemarmo, Pertamina mulai memberikan dukungan kepada kelompok tani tersebut sejak akhir 2024.

    Dukungan itu antara lain berupa pembangunan dua sumur air, sarana dan prasarana pertanian, serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang digunakan sebagai sumber energi untuk mengoperasikan pompa air.

    • Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Naik 4,4% Jadi Rp8.178 Triliun

    Dampaknya mulai terlihat pada tahun pertama pendampingan. Luas lahan yang dapat ditanami saat kemarau meningkat dari sekitar 20% menjadi 60%.

    Memasuki tahun kedua, sekitar 90% lahan sudah dapat dimanfaatkan untuk penanaman. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya menganggur selama sebagian musim kemarau kini dapat kembali digunakan untuk kegiatan pertanian.

    Pengembangan kelompok tani juga diperluas ke sektor peternakan. Petani mengembangkan budidaya hewan ternak secara berkelompok sekaligus memanfaatkan gulma yang memenuhi Waduk Cengklik sebagai pakan alternatif.

    Pemanfaatan gulma tersebut memberikan sumber nilai ekonomi tambahan bagi kelompok tani sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan di sekitar waduk.

    PLTS juga membuat kelompok tani tidak sepenuhnya bergantung pada listrik konvensional untuk mengoperasikan pompa air. Energi surya digunakan untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan.

    Khairul mengatakan berbagai dukungan tersebut mulai berdampak terhadap kondisi ekonomi petani.

    “Manfaat yang diberikan Pertamina sangat banyak dan benar-benar kami rasakan. Dampaknya sangat besar terhadap perekonomian kami. Dulu kami sangat kesulitan sebagai petani, sekarang alhamdulillah kehidupan kami semakin sejahtera,” ujarnya.

    VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan program DEB dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT).

    Menurut dia, pemanfaatan energi terbarukan dalam program tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyediakan akses energi yang lebih ramah lingkungan.

    “DEB tak sekadar menghadirkan akses energi yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian desa melalui sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan,” kata Baron.

    Bagi petani, perubahan dari 20% menjadi 90% lahan yang dapat ditanami saat kemarau berarti semakin banyak lahan yang bisa diolah dan bermanfaat mendorong pendapatan masyarakat desa ketika musim kering berlangsung.

    Boyolali CSR Desa Irigasi Jawa Tengah pertamina pertanian petani
    Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous Article2 Modus WN Tiongkok Selundupkan Emas 22 Kg, Libatkan Oknum Petugas Bandara Soetta
    Next Article Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI Petakan Transformasi Ancaman Siber di Era Kecerdasan Artifisial
    Bayu Pratama

    Related Posts

    Harga Patokan Ekspor Emas Naik 7,87 Persen, Ini Deretan Penyebabnya!

    September 1, 2026

    Dukung B50 & Hemat Devisa Rp7,1 Triliun, Gasifikasi Batubara Dikebut Hasilkan Metanol

    September 1, 2026

    Tak Punya Sawah, Mentan Amran Beri Buruh Tani Karawang “Combine Harvester”

    September 1, 2026

    Merica, Cabai, Kratom dari Kalimantan Tembus Pasar Ekspor Global Hingga India & AS

    Agustus 31, 2026

    Canonical, Mastersystem, dan Sivali Fokus Bangun Infrastruktur Open Source yang Aman dan Efisien

    Agustus 31, 2026

    Inovasi “Bata Interlock Presisi” Percepat Pembangunan Rumah Tahan Api & Ramah Gempa

    Agustus 31, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Kemenag Buka Beasiswa Zakat 2026, Full Funded hingga 8 Semester

    By MartinSeptember 1, 2026

    JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) membuka seleksi Beasiswa Zakat 2026 dengan skema pembiayaan penuh hingga…

    Harga Patokan Ekspor Emas Naik 7,87 Persen, Ini Deretan Penyebabnya!

    September 1, 2026

    Dukung B50 & Hemat Devisa Rp7,1 Triliun, Gasifikasi Batubara Dikebut Hasilkan Metanol

    September 1, 2026
    Top Trending

    Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin

    By AlvaroSeptember 1, 2026

    JOMBANG — Nahdlatul Ulama, yang secara harfiah berarti Kebangkitan Ulama, merupakan salah…

    Belajar dari NU dan Muhammadiyah: Demokrasi Bukan Sekadar Memilih Pemenang

    By MartinAgustus 31, 2026

    Demokrasi kerap dipahami sederhana: siapa memperoleh suara terbanyak, dialah yang menang. Padahal,…

    Merica, Cabai, Kratom dari Kalimantan Tembus Pasar Ekspor Global Hingga India & AS

    By Bayu PratamaAgustus 31, 2026

    Jakarta, Rasional.co – Produk lokal Kalimantan berpeluang memperluas pasar hingga Eropa, Amerika,…

    © 2026 RASIONAL.CO
    • Privacy Policy
    • Terms of Service
    • Extra Crunch Terms
    • Code of Conduct

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?