JAKARTA – Indonesia memiliki banyak talenta yang mengembangkan kompetensi di berbagai bidang strategis di luar negeri. Potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya dapat dikonversi menjadi kontribusi bagi pembangunan nasional karena masih terbatasnya ruang dan wadah untuk mengaplikasikan keahlian di tanah air.
Persoalan itu disampaikan Prof. Dr. Ariawan Gunadi dalam Sarasehan Alumni Connect 2026 bertema “Mengakar di Indonesia, Bertumbuh di Dunia”. Ketua Yayasan Tarumanagara sekaligus Guru Besar Hukum Bisnis dan Perdagangan Internasional itu menilai alumni Indonesia di luar negeri perlu mendapat ruang lebih luas untuk berkontribusi sesuai kompetensi yang dimiliki.
Ariawan menyebut sejumlah talenta Indonesia di luar negeri memiliki keahlian di bidang strategis, mulai dari teknologi nuklir, kecerdasan buatan (AI), hingga pengembangan industri game. Menurut dia, sebagian talenta tersebut masih bertahan di luar negeri karena kompensasi tinggi dan belum tersedianya wadah yang memadai di Indonesia.
“Banyak talenta Indonesia di luar negeri yang menguasai bidang seperti teknologi nuklir, kecerdasan buatan (AI), hingga pengembangan industri game. Banyak di antara mereka yang bertahan di luar negeri dengan kompensasi tinggi karena belum tersedianya wadah yang memadai di Indonesia. Padahal, kebutuhan domestik serta minat perusahaan global terhadap talenta lokal sangat tinggi,” kata Ariawan dalam sesi Leaders Talk, Sabtu (5/9/26).
Karena itu, dia mendorong perluasan kesempatan bagi para alumni luar negeri agar dapat mengaplikasikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh untuk menjawab kebutuhan di dalam negeri. Menurut Ariawan, ruang kontribusi tersebut perlu dibuka baik melalui sektor publik maupun swasta.
“Kontribusi nyata dapat dilakukan pada dua ranah, yaitu sektor swasta dan publik. Di sektor swasta, fokusnya berada pada bidang pendidikan, kesehatan, serta sosial kemasyarakatan. Sementara di sektor publik, kontribusi dilakukan secara berkesinambungan di berbagai lini,” ujarnya.

