JAKARTA. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut keterbatasan lapangan kerja dan persoalan kesehatan mental menjadi dua tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini. Menurutnya, kedua isu tersebut harus menjadi dasar dalam menyusun kebijakan dan program kepemudaan agar benar-benar memberi manfaat bagi anak muda.
Pandangan itu disampaikan Erick saat bertemu Assistant Secretary-General for Youth Affairs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Felipe Paullier di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.
“Lapangan pekerjaan dan kesehatan mental menjadi dua isu besar yang paling dirasakan pemuda dan pemudi di dunia saat ini. Karena itu, program kepemudaan yang kita jalankan harus tepat sasaran, relevan dengan tantangan yang mereka hadapi, dan benar-benar memberikan dampak,” kata Erick.
Ia mengatakan perubahan dunia yang berlangsung cepat ikut memengaruhi masa depan pekerjaan, kehidupan sosial, hingga tekanan yang dihadapi generasi muda. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kebijakan kepemudaan mampu menjawab kebutuhan nyata mereka.
Dalam pertemuan tersebut, Erick dan Felipe Paullier bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda di berbagai negara serta pendekatan program yang dinilai relevan untuk mengatasinya.
“Kami berdiskusi terkait berbagai isu kepemudaan di seluruh dunia. Ini menjadi masukan penting bagi kami untuk memastikan program-program kepemudaan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan para pemuda dan pemudi,” ujarnya.
Erick menegaskan Kementerian Pemuda dan Olahraga terus mendorong agar program kepemudaan tidak hanya menghadirkan kegiatan seremonial, tetapi juga mampu membangun karakter sekaligus meningkatkan kapasitas generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
Menurut dia, arah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan pembangunan kepemudaan melahirkan generasi berkarakter kuat, memiliki daya juang, berempati, serta mencintai bangsa dan negara.
“Sejak pertama kali memberikan amanah kepada saya, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan yang jelas bahwa kita harus membangun generasi muda Indonesia yang patriotik, gigih dan berempati. Karena itu, setiap program harus memiliki tujuan dan dampak yang jelas bagi masa depan mereka,” kata Erick melalui keterangan tertulis Kemenpora.
Selain membahas isu kepemudaan, kunjungan ke PBB juga dimanfaatkan untuk memperluas jejaring internasional dan bertukar pengalaman mengenai praktik terbaik dalam pembangunan generasi muda.
“Pemuda adalah kekuatan masa depan Indonesia. Tugas kita memastikan mereka mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang, sekaligus memiliki karakter yang kuat untuk membawa Indonesia semakin maju dan mampu bersaing di tingkat dunia,” ujar Erick.

