JAKARTA – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri menyerukan perombakan struktur Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) karena dinilai tidak lagi sesuai dengan perkembangan dunia. Megawati menyampaikan seruan itu dalam forum dialog bersama Presiden Timor-Leste Jose Ramos Horta dan sejumlah peraih Nobel serta Turing Award di Megawati Institute, Jakarta.
“Dan saya juga sudah berulang kali meminta bahwa yang namanya Dewan Keamanan itu strukturnya sudah tidak boleh seperti apa yang ada sekarang ini,” ujar Megawati dalam forum tersebut, Kamis (28/8/2026).
Dia mengusulkan agar negara-negara yang dahulu belum merdeka juga mendapatkan tempat di DK PBB. Menurut Megawati, perubahan struktur tersebut diperlukan agar tata dunia menjadi semakin berkeadilan.
“Harus benar-benar mendapatkan juga sebuah perubahan baru di mana yang namanya bangsa-bangsa yang ada sekarang, yang dulu mungkin belum merdeka, itu pun mendapatkan tempat yang namanya di Dewan Keamanan tersebut,” katanya.
Di hadapan Ramos Horta dan jajaran penerima Nobel, Megawati juga mempertanyakan peran PBB dalam menyelesaikan konflik dan perang yang masih terjadi di dunia. Dia mempertanyakan mengapa perang yang terjadi saat ini tidak dapat diselesaikan oleh PBB.
“Nah seperti sekarang ini saja menurut saya sebagai seorang presiden, perang itu mengapa tidak bisa diselesaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa? Itu sebuah big question for me,” kata Megawati.
Dia kemudian mengatakan gagasan untuk mengubah PBB juga telah disampaikan ayahnya, Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno. Menurut Megawati, Bung Karno sejak lama meminta PBB mengubah diri karena lembaga tersebut dibentuk setelah Perang Dunia Kedua.
“Ayah saya, ini tadi mungkin sudah menerima, adalah orang yang selalu meminta untuk yang namanya PBB itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, harus merubah diri karena itu dibuat ketika setelah Perang Dunia Kedua,” ucapnya.
Dia menilai kondisi dunia saat ini sudah berbeda dibandingkan ketika PBB dibentuk setelah Perang Dunia Kedua. Dia mengaitkan perubahan tersebut dengan kebutuhan menciptakan tata dunia yang semakin berkeadilan.
“Sekarang sudah beda peradabannya untuk supaya yang semakin ada berkeadilan tersebut,” pungkasnya.

