JAKARTA – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya harga minyak mentah menjadi tekanan ganda bagi rupiah menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22–23 September 2026. Kondisi tersebut berlangsung di tengah sikap pengetatan Federal Reserve atau The Fed yang mendorong penguatan dolar AS di pasar global.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (18/9/26) melemah 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.758 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.753. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pergerakan rupiah turut dipengaruhi risiko harga minyak yang masih berada di level tinggi.
“Penguatan obligasi pemerintah masih dibayangi risiko harga minyak yang masih di level tinggi di atas asumsi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara),” ucap Rully dikutip dari Antara, Jumat (18/9/26).
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November dilaporkan turun 1,3 persen menjadi US$103,40 per barel. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz masih menjadi faktor yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi pasokan dan biaya energi global.
Selain harga minyak, kebijakan The Fed turut menjadi perhatian pelaku pasar. Penguatan dolar AS terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal pengetatan lebih lanjut, sehingga memengaruhi ekspektasi investor terhadap mata uang negara berkembang.
“Stance kebijakan pengetatan The Fed dengan akselerasi yang tinggi sampai dengan akhir tahun ini. Saat ini, proyeksi kenaikan suku bunga The Fed untuk Oktober oleh pelaku pasar sudah di atas 50%,” ungkap Rully.
Pergerakan dolar AS dan harga minyak menjadi konteks yang perlu diperhatikan menjelang agenda kebijakan BI. RDG Bulanan BI dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026, sebagaimana dilaporkan Media Indonesia pada 18 September.
Sementara itu, Reuters melaporkan sentimen terhadap sejumlah mata uang negara berkembang Asia memburuk akibat kombinasi imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat dan harga minyak yang tinggi. Indonesia termasuk dalam pembahasan mengenai tekanan eksternal terhadap mata uang kawasan.
Data kurs transaksi BI yang tersedia pada 18 September menunjukkan nilai USD sebesar Rp17.841,76 untuk kurs jual dan Rp17.664,24 untuk kurs beli. Angka tersebut merupakan kurs transaksi BI dan perlu dibedakan dari kurs referensi JISDOR maupun kurs pasar spot.
Perkembangan nilai tukar rupiah selanjutnya akan berlangsung bersamaan dengan agenda kebijakan moneter BI dan dinamika pasar global. Perhatian pasar mencakup arah kebijakan suku bunga, perkembangan harga minyak, dan respons otoritas moneter terhadap kondisi eksternal.

