Jakarta, Rasional.co – Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) selama dua hari, 15-16 Oktober 2026, dengan menyemai total 2,4 ton dry ice.
Dalam operasi tersebut, pesawat BNPB melakukan tiga sorti penerbangan dengan total waktu terbang tujuh jam tiga menit. Penerbangan OMC diberangkatkan dari Bandara Raden Inten II, Bandar Lampung, untuk melakukan penyemaian di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Berdasarkan catatan dalam laporan operasi, jarak pandang di bandara tersebut mencapai 1.000 meter pada pukul 13.00 WIB setelah penyemaian pertama. Sekitar pukul 14.30 WIB, jarak pandang tercatat meningkat dari 1.500 meter hingga 2.000 meter.
Penyemaian pertama dilakukan pada pagi hingga siang hari dengan menggunakan 800 kilogram dry ice. Setelah sorti kedua, jarak pandang dilaporkan cenderung stabil di 2.800 meter, kemudian meningkat menjadi 3.000 meter sekitar dua jam berikutnya dan bertahan hingga pukul 20.30 WIB.
Meski jarak pandang membaik selama periode pengamatan tersebut, laporan itu menyebut efektivitas penggunaan dry ice masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Belum dapat dipastikan apakah peningkatan jarak pandang tersebut secara langsung disebabkan oleh penyemaian atau dipengaruhi faktor lain.
Secara teori, penyemaian dry ice pada lapisan atmosfer yang mengalami inversi berpotensi memengaruhi struktur lapisan udara. Inversi merupakan kondisi ketika lapisan udara di atas lebih hangat daripada lapisan di bawahnya, yang dapat memengaruhi pergerakan udara dan kondisi atmosfer.
Pelemahan lapisan udara tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kepekatan asap di dekat permukaan sehingga jarak pandang di sekitar bandara berpeluang meningkat. Namun, penjelasan mengenai mekanisme tersebut belum dengan sendirinya membuktikan efektivitas penyemaian dalam kondisi yang terjadi di Palembang.
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menyatakan penanganan karhutla ditargetkan berlangsung secepat mungkin agar masyarakat tidak terus terdampak. Pernyataan tersebut disampaikan seusai pelantikannya sebagai Kepala BNPB di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
“Targetnya as soon as possible, secepat mungkin. Jangan sampai rakyat terus terdampak,” ujar Kristomei.

