Jakarta, Rasional.co – Harga ayam di tingkat peternak berkisar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram, tetapi mencapai Rp45.000 di tingkat konsumen. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman akan menelusuri kesenjangan harga tersebut bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk mengidentifikasi penyebabnya.
Amran mengatakan, pemerintah tidak ingin peternak dirugikan ketika masyarakat masih harus membeli pangan dengan harga tinggi. Pemeriksaan rantai perdagangan akan dilakukan untuk mengetahui penyebab perbedaan harga sekaligus menindaklanjuti dugaan praktik perdagangan yang tidak sehat.
“Di peternak itu (harga ayam) Rp20.000–Rp21.000 per kilogram, tetapi di ujung harga ayamnya bisa Rp45.000 per kilogram. Telur juga demikian. Artinya, ada persoalan dalam rantai pasok yang harus kita cek dari hulu ke hilir,” kata Amran.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Amran meninjau fasilitas pembibitan ayam atau breeding farm milik PT Widodo Makmur Unggas di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (15/10). Peninjauan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memeriksa kondisi industri perunggasan, mulai dari pembibitan hingga distribusi produk kepada konsumen.
Amran menegaskan, pengawasan diperlukan agar peternak dan konsumen tidak dirugikan oleh persoalan tata niaga. Menurut dia, ayam dan telur menyangkut kebutuhan masyarakat luas sehingga pemerintah perlu memastikan rantai pasok berjalan dengan baik.
“Tidak boleh permainkan konsumen dengan produsen. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kita harus bela rakyat kita, peternak dan konsumen,” tegasnya.
Pemerintah dorong penyerapan telur dan pasokan jagung
Selain memeriksa rantai perdagangan, pemerintah mendorong langkah untuk membantu penyerapan hasil peternak dan menekan biaya produksi. Amran meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap telur dari peternak dengan mengacu pada harga Rp26.500 per kilogram.
Pemerintah juga mendorong percepatan penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Penyediaan pakan melalui ID FOOD turut didorong agar peternak memperoleh bahan baku dengan harga lebih terjangkau.
Langkah tersebut menyasar sisi produksi, sementara pemeriksaan bersama Satgas Pangan ditujukan untuk menelusuri kesenjangan harga dalam rantai perdagangan. Namun, penyebab pasti perbedaan harga ayam dari peternak hingga konsumen belum dijelaskan dalam keterangan Kementerian Pertanian tersebut.
Amran menyatakan, perlindungan peternak perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat. Ayam dan telur merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi rumah tangga sehingga stabilitas pasokan dan harga berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan pangan.
Dalam kunjungan tersebut, Amran juga mengapresiasi pelaku usaha yang telah menjalankan bisnis perunggasan selama puluhan tahun dan berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Pemerintah, kata dia, akan mengawal keberlangsungan usaha peternak sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Kementerian Pertanian menyatakan akan memperkuat koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk mengawal kebijakan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen maupun konsumen.

