“Beras fortifikasi ini bukan sekadar inovasi pangan, ini adalah fondasi masa depan gizi bangsa,” kata Nina.
Menurut Nina, kekurangan zat gizi mikro dapat berdampak terhadap kesehatan, produktivitas, kecerdasan anak, daya tahan tubuh, hingga kualitas sumber daya manusia.
KFI juga menyebut biaya tambahan untuk proses fortifikasi relatif terjangkau. Berdasarkan perhitungan KFI, tambahan biaya fortifikasi diperkirakan sekitar Rp1.000 per kilogram, dengan rata-rata biaya fortifikasi sekitar Rp15.900 per orang per tahun.
“Harga ini harus memberi ruang keuntungan yang wajar bagi industri, tetapi di sisi lain konsumen harus terlindungi,” ujar Nina.
Karena itu, pengawasan terhadap produk beras fortifikasi menjadi penting untuk memastikan klaim yang tercantum pada produk sesuai dengan kandungan dan standar yang ditetapkan.
Bagi pemerintah, pengawasan juga diperlukan agar fortifikasi benar-benar menjadi instrumen peningkatan kualitas gizi, bukan justru membuat konsumen membayar lebih mahal tanpa memperoleh manfaat sesuai klaim.
Pemerintah masih melakukan pendalaman terhadap hasil pengujian tersebut untuk memastikan kesesuaian kandungan fortifikasi dan informasi yang disampaikan kepada konsumen.

