JAKARTA – Kenaikan harga BBM nonsubsidi di tengah tingginya harga minyak dunia memicu kekhawatiran terhadap lonjakan konsumsi Pertalite dan beban subsidi energi. Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Turbo mencapai Rp20.750 per liter.
Penyesuaian harga tersebut terjadi saat harga minyak dunia Brent berada di kisaran USD79 per barel dan WTI sekitar USD76 per barel. Pengamat kebijakan publik Abdul Fatah menilai kondisi tersebut menuntut pemerintah mengikuti mekanisme pasar tanpa membebani APBN secara berlebihan.
“Saya yakin klo liat situasi sekarang, upaya-upaya dari pemerintah terkait dengan stok BBM non subsidi masih aman, saya meyakini masih aman. Terlihat dari langkah-langkah pemerintah untuk memenuhi pasokan BBM ini, yang perlu diperbaiki pemerintah adalah situasi ekonomi agar secara psikologis masyarakat masih nyaman,” ujar Abdul Fatah dikutip dari Antara, Kamis(18/6/26).
Harga BBM Naik, Kuota Pertalite Masih Aman
Abdul Fatah mengatakan realisasi konsumsi Pertalite sejak Januari 2026 masih berada di bawah kuota yang ditetapkan pemerintah. Kondisi itu menunjukkan ketahanan energi nasional dan ruang fiskal APBN masih terjaga.
Dia menilai pemerintah memiliki ruang yang cukup untuk mengantisipasi peralihan pengguna dari Pertamax ke Pertalite. Menurut dia, kenaikan harga BBM belum mengarah pada risiko jebolnya kuota subsidi.
Hingga saat ini pemerintah juga belum mengubah harga BBM subsidi. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Solar subsidi bertahan di level Rp6.800 per liter.
Dampak Sosial Perlu Diantisipasi
Abdul Fatah meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka dampak kebijakan tersebut terhadap APBN. Pemerintah juga perlu menyampaikan alasan penyesuaian harga kepada masyarakat secara gamblang agar tidak memicu spekulasi.
Dia mengungkapkan sejumlah SPBU sempat mengalami gangguan distribusi Pertalite setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi. Namun kondisi tersebut hanya terjadi di wilayah tertentu yang didominasi masyarakat menengah ke atas.
“Ternyata mengalami beberapa problem distribusi di beberapa SPBU, sehingga beberapa SPBU mengalami kelangkaan pertalite. Ini karena terjadinya peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite, dan ini setelah saya analisa lagi, ternyata itu di SPBU tertentu yang dekat dengan komplek masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas,” tegasnya.
Abdul Fatah berharap pemerintah terus menjaga pasokan energi dan memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat. Dia menilai langkah tersebut penting agar dampak kenaikan harga BBM tetap terkendali ketika harga minyak dunia masih bertahan di atas USD75 per barel.

