JAKARTA – Harga minyak dunia turun hingga 26 persen dalam sebulan terakhir. Penurunan ini memunculkan pertanyaan apakah harga BBM Indonesia akan ikut turun setelah Pertamax naik pada Juni 2026.
Data Trading Economics menunjukkan harga minyak mentah WTI berada di level US$76,17 per barel pada 17 Juni 2026. Angka itu turun sekitar 27 persen dibandingkan posisi sebulan sebelumnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut harga BBM nonsubsidi berpotensi turun jika tren minyak dunia terus melemah. “Yang khusus minyak BBM untuk kalangan mampu (non subsidi), sesuai dengan Permen ESDM, itu diserahkan harga pasar, jadi kadang naik kadang turun,” kata Bahlil dalam Raker Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin(15/6/26).
Harga BBM Indonesia Mengikuti Mekanisme Pasar
Pernyataan Bahlil muncul setelah Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026. Kenaikan dilakukan ketika harga minyak acuan Indonesia atau ICP sempat melambung akibat gejolak pasokan global.
Menurut Bahlil, harga BBM nonsubsidi mengikuti formula yang ditetapkan pemerintah. Karena itu, perubahan harga dapat terjadi ketika harga minyak dunia bergerak naik maupun turun.
Dia mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan harga minyak hingga Agustus mendatang. Evaluasi dilakukan untuk melihat arah harga energi global sebelum mengambil kebijakan lanjutan.
Peluang Penurunan Harga BBM
Penurunan harga minyak terjadi setelah pasar merespons meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harapan pemulihan pasokan global membuat harga Brent dan WTI terkoreksi tajam dalam beberapa hari terakhir.
Goldman Sachs bahkan memangkas proyeksi rata-rata harga Brent 2027 menjadi US$80 per barel. Revisi dilakukan karena pasokan global meningkat dan permintaan energi melemah.
Sementara itu, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tetap dipertahankan hingga akhir tahun. Bahlil menegaskan stok energi nasional aman dan kebijakan subsidi masih berjalan sesuai arahan pemerintah.

