Jakarta, Rasional.co – Permintaan terhadap fasilitas hyperscale data center (HDC) Telkom tetap kuat. Okupansi HDC Cikarang telah mencapai 96%, sementara HDC Batam ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II 2026 dengan kapasitas awal 6 MW.
Bisnis data center tersebut menjadi salah satu fokus Telkom dalam mengoptimalkan infrastruktur digital sebagai sumber value creation. Pada Semester I 2026, pendapatan NeutraDC mencapai Rp867 miliar, tumbuh 11% secara tahunan atau year-on-year (yoy).
NeutraDC saat ini memiliki total kapasitas efektif sebesar 49,9 MW. Ke depan, perusahaan akan terus menambah kapasitas melalui pertumbuhan organik dan strategic partnership dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pasar.
Penguatan bisnis data center menjadi bagian dari strategi Telkom untuk meningkatkan nilai tambah dari bisnis infrastruktur digital. Selain data center, Telkom juga mengarahkan InfraNexia menjadi neutral carrier yang melayani kebutuhan ekosistem TelkomGroup sekaligus membuka ruang pertumbuhan dari pelanggan eksternal.
Telkom saat ini mempersiapkan spin-off tahap dua InfraNexia yang diharapkan rampung pada kuartal III 2026. Setelah proses tersebut, InfraNexia diarahkan menjadi entitas utama yang menggarap bisnis wholesale connectivity TelkomGroup.
Pengembangan infrastruktur digital tersebut berjalan di tengah kinerja keuangan Telkom yang tetap tumbuh pada Semester I 2026. Perseroan membukukan pendapatan konsolidasi Rp75,9 triliun, meningkat 3,9% yoy.
EBITDA tercatat Rp37,5 triliun atau tumbuh 3,8% yoy dengan margin 49,4%. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp10,6 triliun, tumbuh 1,4% yoy. Secara ternormalisasi, laba bersih mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 6,2% yoy.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra mengatakan kinerja tersebut didukung perbaikan monetisasi bisnis seluler serta disiplin operasional di TelkomGroup.
“Secara keseluruhan, hasil Semester I menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan earnings yang tetap positif. Kami juga melihat perkembangan yang semakin baik pada profitabilitas, khususnya pada kuartal kedua,” ujar Angelo dalam keterangannya.
Dari sisi belanja modal, lebih dari 94% capital expenditure (CAPEX) Telkom dialokasikan untuk bisnis inti pada segmen B2C dan B2B Infrastructure. Alokasi tersebut diarahkan pada area yang memiliki peran strategis terhadap pertumbuhan jangka panjang.
Memasuki semester kedua 2026, Telkom mempertahankan guidance kinerja dengan target pertumbuhan normalized revenue sebesar 1-3% dan margin EBITDA di atas 50%. Pada kuartal II 2026, margin EBITDA Telkom telah kembali berada di atas 50%.
Pengembangan kapasitas data center dan infrastruktur digital menjadi bagian dari strategi Telkom menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan nilai tambah melalui optimalisasi aset dan penguatan bisnis inti.

