Selain jalur angkutan, Perseroan mempercepat pembangunan Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6-7. Fasilitas tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas angkutan dan pemuatan batu bara sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok.
“Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis,” kata Bambang.
Di sisi lain, PTBA mengembangkan hilirisasi untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru dan meningkatkan nilai tambah batu bara. Perseroan bersama mitra strategis mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan metanol dari aspek teknologi, keekonomian, serta skema bisnis.
PTBA juga mengembangkan Kalium Humat, produk berbasis hasil pengolahan batu bara yang berpotensi digunakan di sektor pertanian. Pilot plant Kalium Humat saat ini berkapasitas sekitar 171 ton per tahun dan ditargetkan berkembang hingga 10.000 ton per tahun.
“Hilirisasi menjadi salah satu fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah,” ujar Bambang.
Diversifikasi juga dilakukan ke sektor energi terbarukan. PTBA bekerja sama dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk menjajaki pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), termasuk di lahan pascatambang yang telah direklamasi.
Total portofolio PLTS PTBA saat ini mencapai sekitar 1,2 MWp. Perseroan akan terus mengidentifikasi proyek potensial di bidang hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset dan lahan pascatambang, serta bidang bisnis lainnya.
Bambang menegaskan bisnis batu bara tetap menjadi kekuatan utama PTBA. Namun, Perseroan menyiapkan portofolio bisnis yang lebih beragam untuk menghadapi perubahan lanskap energi dan industri dengan mempertimbangkan keekonomian, kesiapan teknologi, kepastian pasar, kebutuhan investasi, dan potensi sinergi.

