JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan 56.000 unit pompa air pada Tahun Anggaran 2026 untuk mengantisipasi dampak kekeringan sekaligus menjaga produksi padi di tengah ancaman musim kemarau dan perubahan iklim. Program pompanisasi dipercepat agar sawah di berbagai sentra produksi tetap memperoleh pasokan air.
Dari total pompa yang disiapkan, sekitar 11.000 unit telah disalurkan kepada penerima manfaat, sedangkan sekitar 20.000 unit lainnya sedang dalam proses distribusi berdasarkan usulan pemerintah daerah yang wilayahnya mengalami kekeringan tetapi masih memiliki sumber air.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Andi Nur Alam Syah mengatakan distribusi pompa diprioritaskan ke sentra produksi padi yang memiliki sumber air permukaan seperti sungai, embung, waduk, maupun saluran irigasi.
“Mitigasi kekeringan harus dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. Pompanisasi merupakan salah satu strategi utama agar petani tetap dapat mengairi sawah meskipun curah hujan menurun. Di sisi lain, modernisasi pertanian melalui dukungan alsintan juga terus kami dorong agar produktivitas tetap terjaga dan target swasembada pangan dapat tercapai,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7).
Menurut Andi, pompa-pompa tersebut akan segera dipasang sehingga petani tetap bisa menanam dan menjaga produktivitas meski memasuki musim kemarau.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pompanisasi menjadi solusi tercepat untuk menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu produksi pangan nasional.
“Saya selalu sampaikan bahwa sekarang kita perlu pompanisasi untuk memenuhi air dari sungai ke sawah. Mengapa? Mustahil kita lolos dari krisis pangan kalau solusi cepat ini tidak kita lakukan,” kata Amran.
Ia menilai pengalaman menghadapi fenomena El Nino dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketersediaan air menjadi faktor penting dalam menjaga hasil panen. Karena itu, program pompanisasi dipadukan dengan modernisasi pertanian melalui penyaluran berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan) guna meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat adaptasi terhadap perubahan iklim.
Selain pompa air, Kementan juga terus menyalurkan berbagai alsintan, seperti traktor roda dua dan roda empat, rice transplanter, combine harvester, serta peralatan mekanisasi lainnya. Bantuan tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani, mempercepat masa tanam, dan mengurangi kehilangan hasil panen.
Kementan juga mendorong pemerintah daerah mengidentifikasi sumber-sumber air yang masih dapat dimanfaatkan agar semakin banyak lahan sawah tetap produktif selama musim kemarau.
Petani yang membutuhkan bantuan pompa air maupun alsintan dapat mengajukan usulan melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) atau Dinas Pertanian kabupaten/kota. Bantuan diprioritaskan bagi wilayah yang membutuhkan dan disalurkan kepada Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), Brigade Pangan, maupun kelembagaan petani lain yang memenuhi persyaratan.
Andi berharap bantuan tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh kelompok penerima, tetapi juga memberi manfaat bagi petani lain melalui pengelolaan alsintan yang optimal sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah ancaman kekeringan.

