JAKARTA – Perubahan perilaku pemilih muda mulai menggeser pola politik nasional yang selama ini bertumpu pada figur senior dan komunikasi konvensional. Dominasi media sosial membuat kedekatan emosional, gaya komunikasi publik, dan representasi generasi baru menjadi faktor yang semakin menentukan dalam membangun pengaruh politik.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat pemilih Pemilu 2024 didominasi generasi muda. Kelompok generasi milenial mencapai 33,60% atau sekitar 66,8 juta pemilih, sedangkan Generasi Z sebesar 22,85% atau sekitar 46,8 juta pemilih. Secara total, gabungan keduanya mencapai lebih dari 56% dari daftar pemilih tetap nasional.
Besarnya dominasi pemilih muda itu mendorong munculnya figur perempuan yang dinilai mampu membaca perubahan karakter politik generasi digital. Kehadiran Sherly Tjoanda dan Angela Tanoesoedibjo dinilai menjadi bagian dari perubahan arah politik modern yang lebih komunikatif, terbuka, dan aktif di ruang digital.

Media Sosial Ubah Peta Dukungan Politik
Penguatan figur perempuan muda dinilai tidak lepas dari perubahan cara partai dan pejabat publik membangun komunikasi politik. Pemilih muda kini cenderung menilai figur dari kedekatan terhadap isu keseharian, konsistensi komunikasi, hingga kemampuan membangun interaksi langsung melalui platform digital.
Sherly Tjoanda menjadi salah satu kepala daerah perempuan yang aktif membangun komunikasi publik melalui media sosial. Pendekatan tersebut dinilai memperkuat kedekatannya dengan kelompok pemilih muda di Maluku Utara yang selama ini dinilai semakin kritis terhadap isu pelayanan publik, pembangunan daerah, dan transparansi kebijakan.
Di tingkat nasional, Angela Tanoesoedibjo juga dinilai merepresentasikan wajah politik modern yang dekat dengan generasi baru. Selain menjabat Co-CEO MNC Group, dia juga memimpin Partai Perindo dan pernah menjadi Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2019 – 2024. Kombinasi pengalaman di dunia usaha, pemerintahan, dan politik dinilai membuat Angela memiliki positioning kuat di kalangan pemilih muda dan masyarakat urban.
Pengamat politik menilai perubahan pola komunikasi tersebut menjadi tantangan bagi partai politik yang masih mengandalkan pendekatan konvensional. Sebab, dominasi pemilih usia produktif membuat ruang digital kini menjadi arena utama dalam membentuk opini dan loyalitas politik jangka panjang.

Regenerasi Elite Politik Mulai Terlihat
Menguatnya figur perempuan muda juga dinilai menjadi sinyal munculnya regenerasi elite politik nasional. Kehadiran tokoh dengan citra komunikatif dan modern dipandang dapat memperluas representasi perempuan dalam proses pengambilan kebijakan publik sekaligus menjawab tuntutan regenerasi kepemimpinan.
Kondisi itu membuat kemunculan Sherly Tjoanda dan Angela Tanoesoedibjo tidak hanya dibaca sebagai penguatan figur personal, tetapi juga bagian dari perubahan strategi politik nasional dalam menghadapi dominasi pemilih muda pada kontestasi mendatang.
Di tengah meningkatnya pengaruh generasi digital terhadap arah politik nasional, figur yang mampu membangun komunikasi terbuka dan adaptif diperkirakan akan semakin menentukan dalam perebutan dukungan publik sekaligus membentuk pola regenerasi kepemimpinan partai dan pemerintahan ke depan.

