Jakarta, Rasional.co – Dua industri kecil dan menengah (IKM) binaan Kementerian Perindustrian berhasil masuk ke rantai pasok kendaraan listrik nasional dengan memproduksi komponen motor listrik.
Keduanya, PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri, memproduksi box baterai dan bracket baterai untuk Molinas Alva di bawah PT Electra Mobilitas Indonesia.
Keterlibatan dua IKM tersebut menunjukkan peluang industri kecil untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), tidak hanya sebagai penerima program pembinaan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pembinaan IKM harus diarahkan agar pelaku industri mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok dan mendapatkan pesanan secara berkelanjutan.
“Target kami bukan sekadar semakin banyak IKM yang mendapatkan pembinaan, tetapi juga memenuhi persyaratan industri, karena IKM harus mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke dalam rantai pasok, dan pada akhirnya memperoleh pesanan secara berkelanjutan,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Kedua IKM tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendukung motor listrik nasional yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026 di Cikarang.
Menurut Agus, IKM nasional memiliki peluang mengambil peran lebih luas dalam rantai pasok kendaraan listrik apabila mampu memenuhi kebutuhan teknologi, kualitas, produktivitas, dan akses pasar industri.
Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) mengembangkan IKM komponen alat angkut dengan pendekatan supplier development.
Pendekatan ini dimulai dari kebutuhan industri besar dan original equipment manufacturer (OEM). Kemampuan IKM kemudian dipetakan dan dicocokkan dengan kebutuhan komponen kendaraan listrik.
IKM yang dinilai potensial menjalani asesmen kesiapan pemasok, meliputi teknologi, kualitas, kapasitas produksi, engineering, sertifikasi, produktivitas, biaya, hingga ketepatan pengiriman.
“Pembinaan IKM harus dimulai dari kebutuhan pasar. OEM dan Tier-1 menyampaikan kebutuhan serta standar yang harus dipenuhi, kemudian pemerintah melakukan pembinaan agar IKM mampu menutup kesenjangan tersebut melalui penguatan teknologi, SDM, kualitas produk, standardisasi, serta akses pengujian,” ujar Agus.
Peluang Komponen Motor Listrik
Kemenperin mendorong keterlibatan IKM secara bertahap dalam rantai pasok kendaraan listrik dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi dan kompleksitas komponen.
Pada tahap awal, peluang dapat diarahkan pada komponen yang teknologinya relatif telah dikuasai IKM, seperti komponen berbasis logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, dan wiring harness.
IKM dengan kemampuan engineering dan manufaktur lebih tinggi dapat dikembangkan untuk menghasilkan komponen bernilai tambah lebih besar, seperti battery housing, motor housing, precision machining, komponen kelistrikan, serta komponen pendukung battery pack dan power electronics.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengatakan penguatan kemitraan antara IKM dengan industri besar, OEM, dan Tier-1 menjadi salah satu cara mempercepat integrasi tersebut.
Kemenperin juga menyelenggarakan business matching yang mencakup penyampaian spesifikasi komponen, supplier assessment, pengembangan prototipe, pengujian, hingga proses kualifikasi pemasok.
“Orientasi akhirnya adalah terciptanya komitmen pembelian. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah IKM yang mengikuti business matching, tetapi berapa banyak yang berhasil menjadi qualified supplier dan mendapatkan pesanan industri secara berkelanjutan,” kata Reni.
Pada 2026, Ditjen IKMA juga melakukan pemetaan kebutuhan komponen dari agen pemegang merek (APM), pemetaan kemampuan IKM, business matching, serta pelatihan perakitan dan servis kendaraan listrik roda dua dan kendaraan listrik multiguna roda tiga.
Program tersebut menggandeng salah satu APM motor listrik nasional roda dua dan dua APM mobil listrik untuk mempercepat integrasi IKM komponen otomotif ke dalam ekosistem KBLBB.

