Close Menu
rasional.corasional.co
    What's Hot

    Kemenag Buka Beasiswa Zakat 2026, Full Funded hingga 8 Semester

    September 1, 2026

    Harga Patokan Ekspor Emas Naik 7,87 Persen, Ini Deretan Penyebabnya!

    September 1, 2026

    Dukung B50 & Hemat Devisa Rp7,1 Triliun, Gasifikasi Batubara Dikebut Hasilkan Metanol

    September 1, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Kemenag Buka Beasiswa Zakat 2026, Full Funded hingga 8 Semester
    • Harga Patokan Ekspor Emas Naik 7,87 Persen, Ini Deretan Penyebabnya!
    • Dukung B50 & Hemat Devisa Rp7,1 Triliun, Gasifikasi Batubara Dikebut Hasilkan Metanol
    • Tak Punya Sawah, Mentan Amran Beri Buruh Tani Karawang “Combine Harvester”
    • Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin
    • PSG-PHA Unas Diluncurkan, Soroti Maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online
    • Film Sekuel “GJLS: Berapi-Api” Siap Tayang 5 November 2026, Rigen Rakelna Bocorkan Konflik yang Makin Panas
    • Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Akhir Perjalanan Sang Legenda
    Facebook X (Twitter) Instagram
    rasional.corasional.co
    Login
    Selasa, September 1
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    rasional.corasional.co
    • Nasional
    • Politik
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    Beranda » Dari Timeline ke Track: Media Sosial Ubah Lari Jadi Gaya Hidup
    Lifestyle

    Dari Timeline ke Track: Media Sosial Ubah Lari Jadi Gaya Hidup

    ADNBy ADNFebruari 15, 2026Updated:Februari 15, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Telegram Copy Link
    Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta. Dok: (Ist)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta – Akhir pekan pagi, kawasan car free day dipenuhi ratusan pelari dengan sepatu warna-warni dan jam pintar di pergelangan tangan. Sebagian berlari santai, sebagian lain fokus mengejar target ritme. Namun sebelum keringat mengering, aktivitas itu kerap lebih dulu hadir di linimasa media sosial mulai dari tangkapan layar aplikasi lari seperti Strava, foto outfit run, hingga video pendek bertagar morning miles.

    Fenomena ini menandai pergeseran menarik: dari timeline ke track. Apa yang awalnya viral di media sosial kini menjelma menjadi praktik nyata di ruang publik. Lari bukan lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari gaya hidup yang dibangun, diceritakan dan dibagikan.

    Media Sosial Membentuk Persepsi

    Dalam perspektif Teori Agenda Setting, intensitas konten di media mampu membentuk persepsi publik tentang isu yang dianggap penting. Ketika linimasa dipenuhi promosi fun run, kisah transformasi tubuh, hingga pencapaian personal, lari tampil sebagai aktivitas yang relevan, modern, dan bernilai. Paparan berulang menciptakan kesan bahwa hidup aktif adalah norma baru masyarakat digital.

    Tak hanya itu, Teori Uses and Gratifications melihat individu sebagai subjek aktif yang memanfaatkan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Dalam tren lari, media sosial menjadi ruang aktualisasi diri sekaligus pencarian pengakuan. Unggahan jarak tempuh, medali finisher, atau progres latihan bukan sekadar dokumentasi, melainkan komunikasi simbolik yang mengundang respons. Likes, komentar dan fitur kudos menjadi penguat sosial yang mendorong konsistensi.

    Lari sebagai Identitas

    Artikel ilmiah tentang fenomena “Pelari Kalcer” dalam JIMU (2025) menunjukkan bahwa lari kini dipahami sebagai konstruksi identitas. Sepatu edisi khusus, partisipasi dalam ajang populer, hingga representasi digital menjadi bagian dari citra diri. Tubuh yang berlari tak hanya bergerak, tetapi juga menyampaikan pesan.

    Teori Identitas Sosial menjelaskan bahwa komunitas lari menyediakan ruang afiliasi dan solidaritas. Identitas sebagai “runner” memberi rasa memiliki yang diperkuat oleh interaksi daring maupun luring. Media sosial memperluas jejaring ini, menjadikan pengalaman berlari bersifat kolektif dan terhubung lintas wilayah.

    Antara Inspirasi dan Simbol Status

    Di sisi lain, konsep cultural capital dari Pierre Bourdieu membantu membaca bagaimana atribut tertentu dalam dunia lari dapat berfungsi sebagai simbol status. Sepatu edisi terbatas, jam lari berteknologi tinggi, hingga keikutsertaan dalam lomba prestisius berpotensi menciptakan diferensiasi sosial. Olahraga yang sejatinya sederhana bisa terjebak dalam logika representasi dan konsumsi.

    Meski demikian, pengaruh media sosial tidak melulu bersifat simbolik. Dalam kerangka Teori Pembelajaran Sosial yang diperkenalkan Albert Bandura, individu belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap relevan. Paparan konsisten terhadap konten hidup aktif berpotensi membentuk norma positif. Ketika figur publik maupun teman sebaya membagikan kebiasaan berlari, partisipasi yang lebih luas pun terdorong mendukung agenda kesehatan masyarakat.

    Menjaga Esensi

    Pergeseran dari timeline ke track menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar medium informasi, melainkan ruang pembentuk makna, identitas dan aspirasi. Namun agar transformasi ini tetap konstruktif, ada beberapa catatan penting.

    Pertama, komunitas dan penyelenggara kegiatan lari perlu menekankan inklusivitas agar olahraga ini tidak terkesan eksklusif. Kedua, media massa dapat memperkuat narasi edukatif tentang keamanan dan keberlanjutan latihan, bukan semata sisi tren. Ketiga, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar mampu memaknai konten secara kritis dan tidak menjadikan pengakuan sosial sebagai satu-satunya motivasi.

    Pada akhirnya, perubahan dari timeline ke track mencerminkan cara masyarakat digital membangun makna atas tubuh, kesehatan dan eksistensi. Media sosial dapat menjadi ruang inspirasi sekaligus kompetisi yang halus. Ia mampu mendorong langkah pertama, tetapi juga berpotensi menggeser orientasi menjadi pencitraan.

    Yang perlu dijaga bukan hanya konsistensi berlari, melainkan kejernihan niat di baliknya. Jika media sosial dimanfaatkan sebagai sarana berbagi dan saling menguatkan, setiap kilometer yang ditempuh bukan hanya memperpanjang jarak, tetapi juga memperdalam kesadaran akan pentingnya hidup sehat yang otentik dan berkelanjutan.

    Penulis opini

    Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta

    Car free day Fun run Opini
    Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleFakultas Strategi Pertahanan Unhan RI Perkuat Akar Ketahanan Nasional di Jonggol Melalui Nilai Bela Negara dan Kearifan Lokal
    Next Article Mahalini Guncang Istora Senayan dalam “KOMA Live in Concert”, Tandai Debut Pasca-Melahirkan
    ADN

    Related Posts

    Film Sekuel “GJLS: Berapi-Api” Siap Tayang 5 November 2026, Rigen Rakelna Bocorkan Konflik yang Makin Panas

    Agustus 31, 2026

    Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Akhir Perjalanan Sang Legenda

    Agustus 31, 2026

    Sinopsis Series ‘Lovesick’ Ceritakan Cinta Bersemi saat Revolusi

    Agustus 31, 2026

    Sinopsis Film Dewi Siluman Ular: Taruhan Nyawa di Balik Perjanjian Gaib

    Agustus 31, 2026

    Film Bapakmu Kiper: Ketika Fedi Nuril Jadi Kiper Tarkam Demi Anak

    Agustus 31, 2026

    Orangutan Pingsan di Kebun Sawit Ketapang Akibat ASAP Karhutla, Tim Relawan Turun Tangan

    Agustus 31, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Kemenag Buka Beasiswa Zakat 2026, Full Funded hingga 8 Semester

    By MartinSeptember 1, 2026

    JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) membuka seleksi Beasiswa Zakat 2026 dengan skema pembiayaan penuh hingga…

    Harga Patokan Ekspor Emas Naik 7,87 Persen, Ini Deretan Penyebabnya!

    September 1, 2026

    Dukung B50 & Hemat Devisa Rp7,1 Triliun, Gasifikasi Batubara Dikebut Hasilkan Metanol

    September 1, 2026
    Top Trending

    Muktamar ke-35 NU, AYP Sambut Positif Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin

    By AlvaroSeptember 1, 2026

    JOMBANG — Nahdlatul Ulama, yang secara harfiah berarti Kebangkitan Ulama, merupakan salah…

    Belajar dari NU dan Muhammadiyah: Demokrasi Bukan Sekadar Memilih Pemenang

    By MartinAgustus 31, 2026

    Demokrasi kerap dipahami sederhana: siapa memperoleh suara terbanyak, dialah yang menang. Padahal,…

    Merica, Cabai, Kratom dari Kalimantan Tembus Pasar Ekspor Global Hingga India & AS

    By Bayu PratamaAgustus 31, 2026

    Jakarta, Rasional.co – Produk lokal Kalimantan berpeluang memperluas pasar hingga Eropa, Amerika,…

    © 2026 RASIONAL.CO
    • Privacy Policy
    • Terms of Service
    • Extra Crunch Terms
    • Code of Conduct

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?