JAKARTA – Akun media sosial resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia@sekretariat.kabinet mendadak diserbu netizen. Penyebabnya adalah unggahan video bernada pencitraan Presiden Prabowo Subianto dalam rangka HUT ke-81 RI yang dinilai tidak sensitif alias tone deaf terhadap kondisi sosial masyarakat.
Video berdurasi di bawah satu menit yang diunggah Kamis (20/8/2026) tersebut menampilkan potongan aksi unjuk rasa. Dalam cuplikan itu, terdengar teriakan “Prabowo Bedebah” dari para demonstran yang memprotes kebijakan pemerintah. Sayangnya, bagian tersebut dipotong tanpa menampilkan konteks utuh kritik yang disampaikan warga.
Sebagai tandingannya, pihak pengelola akun menyematkan narasi kontras pada caption:
“Ironi Demo ‘Prabowo Bedebah’, 500 ribu warga menyapa pak Presiden.”
Kontroversi Narasi dan Reaksi Pedas Netizen
Video tersebut langsung viral hingga memancing lebih dari 47.700 komentar dan dibagikan ulang sebanyak 6.717 kali. Dalam narasinya, Istana mengklaim ada lebih dari 150 ribu warga hadir di Istana Merdeka sejak pukul 02.00 WIB memakai baju adat, serta lebih dari 500 ribu orang memadati kawasan Monas hingga Bundaran HI pada malam harinya.
Istana menekankan pesan persatuan bahwa bendera Merah Putih adalah pemersatu bangsa. Namun, warganet justru menilai gaya komunikasi tersebut sangat tidak empatik. Di tengah situasi dalam negeri yang diselimuti duka akibat berbagai bencana alam, konten tersebut dinilai memicu adu domba di akar rumput.
Beberapa komentar pedas netizen yang membanjiri kolom komentar antara lain:
- @juanrobin_: “Tone deaf banget.”
- @dr.lucky.sp.a: “Ramainya konser bukan tolak ukur kepercayaan. Orang bisa menikmati hiburan sekaligus kecewa pada kebijakan. Membandingkan hiburan dengan protes justru terkesan tone deaf!”
- @inside.ima: “Komunikasi publiknya jelek banget. Problem negara masih banyak yang lebih prioritas, ini kok malah ngurusin hal receh dan merasa paling spesial?”
- @maharranilife: “Respon yang sangat disayangkan dari pemerintah, mengadu domba rakyatnya sendiri. Kalau negeri baik-baik saja, buat apa orang capek-capek demo?”
Memahami Istilah Tone Deaf: Bukan Soal Musik!
Secara harfiah dalam dunia musik, tone deaf berarti buta nada. Namun, dalam konteks dinamika sosial dan kultur media sosial modern, istilah tone deaf merujuk pada perilaku seseorang atau lembaga yang tidak peka, minim empati, serta tutup mata terhadap situasi sulit yang sedang dialami orang lain.
Fenomena ini makin sering dipakai publik sejak maraknya budaya flexing (pamer kekayaan) atau aksi pencitraan yang diluncurkan di waktu yang sangat tidak tepat.
Akar Perilaku Tone Deaf: Dari Mana Asalnya?
Berdasarkan analisis lembaga psikologi The Center for Hope WNY, perilaku tone deaf erat kaitannya dengan karakter narsisistik (narcissism).
Berikut karakteristik utama mengapa seseorang atau lembaga bisa bersikap tone deaf:
Bentuk Manipulasi Emosional: Sering kali bermanifestasi dalam tindakan mengalihkan kesalahan, memutarbalikkan fakta, hingga terkesan acuh pada penderitaan sosial.
Fokus Terlalu Egois: Hanya memandang sesuatu dari sudut pandang pribadi atau kelompoknya tanpa peduli realita luar.
Minim Efek Refleksi Diri: Ketidakmampuan melakukan introspeksi sehingga tidak sadar narasi yang dilempar justru menyakiti perasaan publik.

