Jakarta, Rasional.co – Modal Rp2 juta yang relatif kecil menjadi awal perjalanan Dermiyanti membangun usaha kue bolu di Jambi. Kini, rumah produksinya mampu mencetak omzet hingga Rp20 juta per hari, atau sekitar 10 kali lipat dari modal awal tersebut.
Perjalanan itu tidak hanya ditopang tambahan modal, tetapi juga pengetahuan yang dibawa Dermiyanti dari Bogor ke Jambi. Sebuah studi banding pada 2024 mempertemukannya dengan resep Roti Mandau Durian yang kemudian menjadi salah satu titik balik usahanya.
Dermiyanti mulai merintis usaha kue pada 2014 dari rumah dengan kapasitas produksi yang masih terbatas. Empat tahun kemudian, ia bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar dan memperoleh pinjaman modal awal sebesar Rp2 juta.
Seiring perkembangan usahanya, plafon pinjaman Dermiyanti meningkat hingga hampir Rp10 juta. Namun, kesempatan mengembangkan produk justru datang dari pengalaman belajar di luar daerah.
Pada 2024, Dermiyanti difasilitasi PNM Mekaar mengikuti studi banding ke Bogor. Dari kegiatan tersebut, ia memperoleh sejumlah pengetahuan dan membawa pulang resep untuk dicoba kembali di Muaro Bungo, Jambi.
Salah satunya adalah Roti Mandau Durian. Resep tersebut sebelumnya pernah dicoba pembuat kue lain di Muaro Bungo, tetapi belum berhasil mendapatkan tekstur yang pas.
“Saat pulang ke Jambi saya coba resep hasil studi banding yang diajak sama PNM yaitu Roti Mandau Durian, resep yang sebelumnya pernah dicoba pembuat kue lain di Muaro Bungo tapi belum ada yang berhasil menemukan tekstur yang pas,” tutur Dermiyanti.
Dermiyanti tidak berhenti pada percobaan pertama. Ia terus menyempurnakan resep tersebut hingga menghasilkan dua varian andalan, yakni Roti Mandau Durian dan Mandau Coklat.
Respons pasar terhadap produk baru itu kemudian mengubah skala usahanya. Permintaan yang meningkat membuat rumah produksi Dermiyanti beroperasi sejak pagi hingga dini hari, bahkan tim produksinya kerap lembur sampai waktu subuh.

