Kini, rumah produksinya mampu menghasilkan hingga 3.000 bolu setiap hari. Produk yang dibuat meliputi brownies, sarang semut, Roti Mandau Durian, Mandau Coklat, dan rainbow cake.
Dengan harga jual Rp15.000 per bolu, produksi tersebut menghasilkan omzet harian sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta. Produk Dermiyanti dipasarkan ke sejumlah daerah, antara lain Bangko, Sarolangun, hingga Tebo.
Pertumbuhan usaha itu juga menciptakan lapangan kerja bagi 15 orang. Menariknya, para pekerja tersebut juga merupakan nasabah Mekaar.
“Saya juga ngga nyangka dari awal modal dua juta sekarang bisa punya 15 karyawan, yang juga menjadi nasabah Mekaar,” ujarnya.
Selain dukungan permodalan dan pengembangan produk, Dermiyanti juga mendapat fasilitasi untuk mengurus Nomor Induk Berusaha atau NIB. Legalitas tersebut memperkuat fondasi usahanya untuk berkembang.
Bagi Dermiyanti, angka omzet dan jumlah pekerja bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia melihat keberanian untuk terus mencoba sebagai bagian penting dari perjalanan usahanya.
“Dari modal awal dua juta, saya belajar bahwa keberanian untuk terus mencoba adalah kuncinya. Ilmu dan resep dari Bogor saya bawa pulang, saya coba terus sampai berhasil walau yang lain pernah gagal,” tuturnya.
Ia mengakui perjalanan tersebut membutuhkan kerja keras, termasuk ketika produksi harus berlangsung hingga larut malam.
“Jangan pernah takut capek dan lembur, karena dari kerja keras inilah kita bisa membuka pintu rezeki untuk keluarga dan belasan orang di sekitar kita,” ujar Dermiyanti.
Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Kindaris mengatakan perjalanan Dermiyanti menunjukkan bagaimana modal kecil dapat berkembang ketika disertai kepercayaan dan ketekunan.
“Kami tidak pernah sekadar menyalurkan modal, kami menitipkan harapan. Kisah Ibu Dermiyanti mengajarkan kami bahwa dua juta rupiah, bila dirawat dengan kepercayaan dan ketekunan, bisa tumbuh menjadi rezeki bagi belasan keluarga di sekitarnya,” kata Kindaris dalam keterangannya.

