JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus menyuarakan pentingnya penguatan diplomasi kemanusiaan secara masif guna mendobrak berbagai kebuntuan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Hal ini ditegaskan oleh Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim.
Prof. Sudarnoto mengatakan saat ini sangat dibutuhkan koordinasi dan konsolidasi masyarakat sipil secara global. Ia melihat adanya peluang besar karena semangat (spirit) global untuk mendobrak kebuntuan politik, hukum, dan kemanusiaan sudah mulai muncul di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat dan internal Israel sendiri.
“Ini membutuhkan koordinasi, membutuhkan konsolidasi secara global. Dan peluangnya sangat besar karena kita lihat spirit global yang dilakukan oleh masyarakat sipil untuk mendobrak kebuntuan politik, hukum, dan kemanusiaan itu sudah mulai muncul di mana-mana,” ujar Prof. Sudarnoto.
Salah satu langkah nyata yang telah ditempuh adalah pembentukan AFCAP (Asia Pacific Coalition for Al-Quds and Palestine). Koalisi ini merupakan inisiatif dari masyarakat sipil di negara-negara Asia Pasifik, di mana Indonesia dipercaya sebagai markas besarnya (headquarter). Forum ini diharapkan dapat mempercepat dan memperkuat solidaritas global.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Amirsyah Tambunan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak pernah lelah memberikan dukungan moral maupun material.
“Jangan pernah berhenti untuk terus mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Kenapa? Karena mereka adalah saudara-saudara kita, dan mereka juga sungguh memiliki nilai kemanusiaan sama dengan manusia yang ada di dunia ini, punya hak untuk merdeka dan berdamai,” tegas Amirsyah.
Keprihatinan dan Apresiasi atas Kepulangan 9 WNI
Di sela-sela penguatan diplomasi internasional tersebut, isu perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri juga tetap menjadi perhatian serius bagi MUI.
Anggota Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Nieke Monika Kulsum Ph.D., menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas peristiwa yang sempat menimpa 9 WNI baru-baru ini. Meski tidak merinci detail insiden tersebut, Nieke menekankan pentingnya empati terhadap kondisi psikologis para korban.
“Kami turut prihatin yang sedalam-dalamnya atas kejadian yang menimpa sembilan saudara kita sesama WNI. Alhamdulillah, kita bersyukur mereka saat ini sudah bisa kembali dengan selamat ke tanah air,” ungkap Nieke.
Kendati demikian, Nieke juga mengingatkan bahwa pemulihan para korban pasca-kejadian adalah hal yang sangat krusial.
“Walaupun mereka sudah kembali dengan selamat, kita tentu memahami bahwa pasti ada trauma mendalam yang mereka alami setelah melewati peristiwa tersebut. Dukungan moril dan pemulihan psikologis menjadi hal yang sangat penting bagi mereka saat ini,” tutupnya.

