Semakin beragamnya investasi menunjukkan peluang Morowali untuk berkembang dengan basis industri yang lebih luas. Industri pangan hadir di tengah dominasi sektor mineral dan membuka ruang bagi pengembangan industri hilir berbasis komoditas lain.
Kepala Bidang Fasilitas Kanwil Bea Cukai Sulbagtara Adeltus Lolok mengatakan masuknya industri pangan menunjukkan sektor industri di Morowali mulai semakin beragam.
“Morowali sekarang bukan hanya soal nikel, tetapi kini menarik industri yang sangat berbeda, yaitu sektor makanan. Fasilitasi kepabeanan terbukti dapat menjadi magnet industri yang beragam,” ujar Adeltus.
Menurut Adeltus, sekitar 90 perusahaan kini beroperasi di Morowali. Sebanyak 49 perusahaan di antaranya telah memanfaatkan fasilitas kawasan berikat yang diberikan Bea Cukai sesuai ketentuan.
Fasilitas tersebut memberikan kemudahan di bidang kepabeanan dan perpajakan bagi perusahaan yang memenuhi persyaratan. Bagi industri yang menggunakan bahan baku impor atau memiliki aktivitas perdagangan internasional, fasilitas ini dapat membantu efisiensi produksi dan distribusi.
Adeltus menilai investasi tidak hanya membutuhkan bahan baku dan pasar, tetapi juga kepastian serta kemudahan dalam menjalankan usaha. Fasilitas kepabeanan menjadi salah satu faktor yang mendukung kelancaran rantai pasok dan daya saing industri.
“Investasi tidak hanya membutuhkan bahan baku dan pasar, tetapi juga kepastian dan kemudahan dalam menjalankan bisnis. Di sinilah fasilitas kepabeanan memiliki peran untuk mendukung daya saing industri,” ungkapnya.
Dengan masuknya industri pangan, Morowali berpeluang berkembang sebagai kawasan industri yang tidak hanya bertumpu pada nikel, tetapi juga mencakup sektor pangan dan industri pendukung lainnya.

