SURABAYA. Persaingan di ruang digital kini tidak lagi sekadar memperebutkan informasi, tetapi juga membentuk cara masyarakat memandang sebuah persoalan. Di tengah dominasi algoritma media sosial dan perkembangan kecerdasan artifisial atau AI, jurnalisme profesional dinilai tetap menjadi benteng utama menjaga fakta dan kepercayaan publik.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan algoritma platform digital dirancang untuk menarik perhatian pengguna. Sementara itu, teknologi AI mampu menghasilkan artikel, gambar, hingga video yang terlihat meyakinkan dalam waktu singkat, termasuk konten manipulatif seperti deepfake.
“Kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, tetapi juga kompetisi membentuk persepsi. Karena itu, masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan sekadar mengejar viralitas,” kata Nezar di Surabaya, Kamis (30/7).
Menurut Nezar, perkembangan tersebut membuat penyebaran disinformasi berlangsung semakin cepat dan semakin sulit dikenali masyarakat apabila tidak diimbangi praktik jurnalisme yang profesional.
Karena itu, ia menilai media arus utama perlu memperkuat fungsi jurnalistik dengan tetap mengedepankan akurasi, verifikasi, etika, dan kredibilitas. Di tengah banjir konten digital, media memiliki peran sebagai ruang penjernih informasi yang dapat dipercaya masyarakat.
“Jurnalisme harus mendapatkan satu momentum yang tepat untuk bisa kembali merebut perhatian. Algoritma bekerja menarik atensi kita, tetapi jurnalisme dibutuhkan sebagai ruang penjernih informasi,” ujarnya.
Nezar menjelaskan tantangan ruang digital saat ini juga dipengaruhi mekanisme echo chamber dan filter bubble yang membuat pengguna terus menerima informasi serupa sesuai preferensinya. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang publik untuk menguji kebenaran informasi dari sudut pandang berbeda.
Selain itu, ia menilai media lokal tetap memiliki posisi strategis di tengah dominasi platform digital global. Kedekatan dengan masyarakat memungkinkan media lokal lebih cepat menangkap persoalan sosial, ekonomi, hingga pelayanan publik sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar.
“Media lokal menghadirkan percakapan publik yang lebih autentik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dari media lokal kita bisa membaca berbagai persoalan secara lebih utuh sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar,” katanya.
Ia menambahkan kepercayaan yang dibangun media lokal menjadi modal penting dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat. Selama menjalankan kode etik jurnalistik, media tetap menjadi rujukan masyarakat untuk memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan tersebut, lanjut Nezar, sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital yang mendorong terciptanya ruang digital Indonesia yang aman, tepercaya, dan berkualitas melalui penguatan tata kelola ruang digital, penanganan disinformasi, peningkatan literasi digital, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
Menutup pemaparannya, Nezar mengajak insan pers terus menjaga kualitas kerja jurnalistik di tengah disrupsi teknologi. Menurutnya, ketika algoritma berlomba merebut perhatian publik, kepercayaan hanya dapat dibangun melalui pemberitaan yang berpijak pada fakta, akurasi, dan integritas.
“Selama media tetap memegang teguh kode etik jurnalistik, saya yakin jurnalisme akan tetap menjadi rujukan publik dan terus relevan di era digital,” ujarnya.

