JAKARTA – Ruben Onsu memilih fokus memulihkan diri serta menata kembali prioritas hidup usai mengakhiri perjalanan rumah tangga selama 11 tahun bersama Sarwendah.
Kegagalan biduk rumah tangga tersebut memberikan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan figur publik ini. Keputusan membuka hati atau membangun kembali mahligai pernikahan belum masuk dalam agenda jangka pendek.
Pernyataan terbuka mengenai kondisi emosional tersebut terungkap saat wawancara mendalam di kanal YouTube Leslar Entertainment. Ruben Onsu menilai keputusan menikah membutuhkan kesiapan lahir dan batin secara penuh tanpa ketergesaan.
“Aku sekarang nggak, maksudnya belum mau menikah lagi,” ungkap Ruben Onsu.
Ruben Onsu menyadari kegagalan masa lalu membuat diri merasa kurang bijak jika harus memberikan nasihat pernikahan kepada publik.
“Jadi memang menikah itu ketika lo sudah siap. Kalau gue ngomongin pernikahan kurang pantas, karena gue sendiri gagal. Namun, yang saya pelajari dari kegagalan itu adalah bla bla bla jadi gitu,” tutur pembawa acara kondang ini.
Proses Pemulihan dan Ujian Kehidupan
Perjalanan menata hidup pasca-perceraian menghadapi tantangan tersendiri ketika persoalan masa lalu kerap menjadi bahan perbincangan publik. Situasi tersebut menuntut kesabaran ekstra dalam menyelesaikan setiap dinamika masalah.
Guna menghadapi berbagai ujian, keputusan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta menjadi landasan utama dalam melangkah.
“Namun, ketika kita berusaha menjadi yang terbaik, memperbaiki diri tetapi masih membahas masa lalu, lama-lama enggak akan selesai. Jadi, problem hidup datang dari mana saja, enggak hanya dari kanan kiri, ternyata depan belakang, atas bawah,” jelas Ruben.
“Makanya, yang pertama yang saya balut dan saya minta lindungi adalah Allah melindungi saya di dunia selesai itu mah selesai,” tegas Ruben Onsu.
Fokus kegiatan serta prioritas hidup Ruben Onsu pasca-perceraian:
- Durasi Pernikahan Sebelumnya: Membina rumah tangga selama 11 tahun bersama Sarwendah.
- Prioritas Utama Keluarga: Menginginkan waktu berkualitas agar dapat kembali berkumpul bersama anak-anak.
- Aktivitas Profesional: Tetap menjalankan rutinitas pekerjaan di dunia hiburan dan jadwal syuting.
- Proyek Sosial dan Keagamaan: Membangun masjid serta rumah tahfidz bagi masyarakat.
- Rencana Jangka Panjang: Mempelajari mekanisme pendirian panti asuhan berdasarkan latar belakang pribadi sebagai anak yatim piatu.
Meningkatkan Kontribusi Sosial dan Keagamaan
Langkah nyata menata kehidupan terlihat dari keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan. Selain menjaga profesionalisme di dunia hiburan, alokasi waktu dan sumber daya tercurah untuk pembangunan fasilitas ibadah serta pendidikan keagamaan.
“Kalau untuk hati belum, penginnya selesai dahulu biar bisa berkumpul dengan anak-anak kalau Allah berikan. Namun, kalau nggak ya masih banyak yang masih saya pikirkan. Saya masih ada membangun masjid, rumah tahfidz, saya juga lagi pelajari karena saya seorang anak yatim piatu, mungkin enggak ya saya punya panti asuhan,” pungkas Ruben Onsu.

