“Kami membuat jenama kedua, yaitu Kultur Jawa yang menargetkan pembeli muda dengan selera warna-warna lebih cerah dan dengan model pakaian yang lebih kasual,” ucap Hapsari.
Menurut Hapsari, strategi tersebut menjadi cara untuk membuat batik tetap relevan dan diterima oleh konsumen dari berbagai kelompok usia. Dengan pendekatan desain dan jenama yang berbeda, batik diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus memiliki pasar.
Strategi ekspansi pasar kedua usaha tersebut akan dibawa dalam rangkaian TEI 2026. Reka Design akan berpartisipasi bersama HIPMI Surakarta, sementara sejumlah UMKM batik dari Surakarta juga dipersiapkan mengikuti pameran dagang tersebut.
Produk batik dari kawasan Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman sebelumnya telah menjangkau buyer dari Asia Tenggara, Jepang, hingga Eropa. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi batik Surakarta sebagai produk berbasis budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Surakarta menyiapkan delapan UMKM untuk berpartisipasi dalam TEI 2026. Produk yang ditampilkan didominasi batik, dengan fokus pada pengembangan dan pelestarian batik tulis.
Dua pendekatan tersebut memperlihatkan cara berbeda UMKM mempertahankan daya saing produk lokal. Rotan mengandalkan perluasan pasar ekspor dan penguatan desain, sementara batik mengembangkan segmen konsumen baru melalui pembaruan jenama, warna, dan model tanpa meninggalkan identitas budaya.
Paparan strategi pelaku usaha itu mengemuka saat Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri meninjau langsung Reka Design di Desa Trangsan serta sentra batik di Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman, Surakarta, Jumat (4/9/2026), untuk melihat kesiapan UMKM menghadapi TEI 2026.
Khusus produk rotan, Roro menyoroti efek pengganda industri terhadap masyarakat Desa Trangsan, termasuk keterlibatan ratusan perajin, penyerapan tenaga kerja, dan penggunaan bahan baku lokal. Sementara untuk batik, ia menilai pengalaman UMKM Surakarta membangun kemitraan dengan buyer dari Asia Tenggara, Jepang, hingga Eropa menunjukkan bahwa produk berbasis budaya dapat dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

