JAKARTA – Kesenjangan kualitas pendidikan dinilai masih menjadi tantangan utama yang menghambat pemerataan kesejahteraan sekaligus daya saing Asia Tenggara di era kecerdasan artifisial (AI).
Pandangan itu disampaikan mantan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan saat bedah buku What It Takes: Southeast Asia, From the Periphery to the Core of Global Consciousness di Executive Lounge Kampus I Universitas Tarumanagara, Selasa (4/8/2026).
Menurut Gita Wirjawan, salah satu persoalan mendasar di Asia Tenggara adalah belum meratanya akses terhadap pendidikan berkualitas. Kondisi itu berdampak pada terkonsentrasinya pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar, sementara daerah lain tertinggal.
“Semakin kita bisa mendistribusi kualitas pendidikan di seluruh pelosok, di seluruh kode pos, semakin kita bisa mendistribusi barang publik termasuk intelek, pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, nilai moral, nilai sosial. Ini nyambung dengan aspirasi kita untuk berdiri sebagai demokrasi di berbagai negara di Asia Tenggara,” ujar Gita usai acara.
Gita menilai pemerataan pendidikan juga menjadi prasyarat agar Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, melainkan ikut menentukan arah perkembangannya. Untuk itu, kapasitas sumber daya manusia di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) harus ditingkatkan secara signifikan.
“Kalkulasi saya kalau Asia Tenggara bisa membuahkan 1,5 sampai 2 juta produk STEM dalam setahun dibandingkan 750.000. Kalau Indonesia bisa membuahkan 1 juta produk STEM setahun, bukan 250.000, itu niscaya akan berkorelasi dengan pengedepanan narasi AI dan robotik. Kita harus menjadi pemangku dalam narasi AI,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Tarumanagara Prof. Dr. Ariawan Gunadi mengatakan gagasan yang disampaikan Gita menjadi pengingat bahwa investasi terbaik untuk masa depan tetap dimulai dari pendidikan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan perubahan zaman.

