Namun, perjalanan kereta ini tidak selalu menggunakan konfigurasi seperti sekarang. Memasuki dekade 1990-an, Senja Utama Solo sempat membawa kereta eksekutif-A, eksekutif-B, hingga couchette atau kereta tidur dengan tempat tidur tetap.
Catatan pada 25 November 1994 bahkan mencantumkan tarif layanan couchette sebesar Rp33.000. Pada masa itu, perjalanan malam Solo dan Jakarta menawarkan pengalaman beristirahat di atas kereta yang berbeda dari perjalanan dengan tempat duduk biasa.
Perubahan terus datang bersama zaman dan kebutuhan perjalanan. Setelah melewati periode tersebut, rangkaiannya kembali menggunakan layanan bisnis sebelum kelas eksekutif kembali menjadi bagian Fajar dan Senja Utama Solo pada 2016.
Dua tahun kemudian, wajah kereta itu berubah lagi ketika mulai 21 Mei 2018 digunakan rangkaian berbahan baja nirkarat produksi PT INKA. Layanan tersebut membawa kelas eksekutif dan ekonomi premium dalam satu perjalanan.
Perubahan berikutnya terjadi ketika Grafik Perjalanan Kereta Api atau Gapeka 2019 berlaku pada 1 Desember 2019. Pengaturan perjalanan membuat kereta dari Jakarta berangkat pada pagi hari, sementara perjalanan dari Solo menuju Jakarta berlangsung pada malam hari.
Dari situlah penamaan Fajar dan Senja semakin mudah dibaca melalui waktu perjalanannya. Fajar mengantar perjalanan pagi menuju Solo, sedangkan Senja membawa perjalanan malam menuju Jakarta.
Babak baru kembali hadir pada 31 Januari 2025 ketika Fajar dan Senja Utama Solo mulai menggunakan rangkaian campuran kelas eksekutif dan ekonomi generasi terbaru. Rangkaian berbahan baja nirkarat tersebut diproduksi PT INKA Madiun.
Di sepanjang lintasan waktu itu, wajah kereta terus berubah. Yang dahulu berangkat dengan rangkaian buatan Yugoslavia kini berjalan menggunakan sarana generasi terbaru yang diproduksi industri perkeretaapian Indonesia.
Hampir lima dekade perjalanan itu akhirnya bukan hanya cerita tentang kereta dan rel. Ia juga menjadi potongan kecil dari perubahan cara masyarakat bepergian, dari satu generasi penumpang kepada generasi berikutnya.
Menariknya, perjalanan tersebut belum menjadi cerita masa lalu. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Fajar Utama Solo melayani 148.669 pelanggan, meningkat 7,65 persen dibandingkan 138.102 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Maret menjadi bulan dengan jumlah pelanggan tertinggi sepanjang delapan bulan tersebut, mencapai 21.068 orang. Pada periode yang sama, jumlah pelanggan bertambah 10.567 orang dibandingkan Januari hingga Agustus 2025.
Angka itu memberi warna berbeda pada cerita sebuah kereta yang telah melewati hampir lima dekade. Ketika rangkaian dan fasilitas berubah mengikuti zaman, masih ada penumpang yang memilih perjalanan melalui jalur yang sama.
Mungkin bagi sebagian orang, perjalanan dengan Fajar atau Senja Utama Solo hanyalah perjalanan menuju kota tujuan. Namun bagi perjalanan yang telah dimulai sejak 1978, setiap keberangkatan juga menyimpan jejak zaman yang terus bergerak.
Dari kereta bisnis Goša, pengalaman couchette pada dekade 1990-an, hadirnya kembali kelas eksekutif, hingga rangkaian baja nirkarat produksi INKA, sejarahnya berjalan mengikuti perubahan industri kereta api Indonesia. Nama Fajar dan Senja tetap menjadi benang merah di antara berbagai perubahan tersebut.
“Sejarah panjang Fajar dan Senja Utama Solo terus berlanjut melalui pelanggan yang masih memilih layanan ini hingga sekarang. KAI akan menjaga identitas historisnya sambil terus mengembangkan kualitas perjalanan sesuai kebutuhan pelanggan,” kata Anne.

