Jakarta, Rasional.co – Ada perjalanan yang selesai ketika kereta tiba di stasiun tujuan, tetapi ada pula perjalanan yang terus hidup melalui nama, kenangan, dan generasi penumpangnya. Salah satunya Fajar dan Senja Utama Solo, layanan kereta yang akarnya bermula dari perjalanan malam Solo menuju Jakarta pada 1978.
Pada 14 Oktober 1978, Senja Utama Solo mulai beroperasi melayani relasi Solo Balapan dan Gambir. Hampir lima dekade kemudian, namanya masih terdengar pada perjalanan kereta yang menghubungkan Surakarta dan Jakarta.
Pada masa awalnya, Senja Utama Solo merupakan kereta kelas bisnis dengan rangkaian buatan Goša dari Yugoslavia. Kereta tersebut memiliki ciri khas delapan jendela pada masing-masing sisinya yang menjadi bagian dari wajah perjalanan kereta Indonesia kala itu.
Kereta itu berangkat ketika malam mulai turun dari Solo, membawa penumpang melewati Yogyakarta, Purwokerto, dan Cirebon menuju Jakarta. Nama “Senja” kemudian menjadi bagian dari identitas perjalanan yang lekat dengan waktu keberangkatannya.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, perjalanan Fajar dan Senja Utama Solo memperlihatkan perubahan pelayanan kereta api antarkota selama hampir lima dekade. Menurut dia, rangkaian, kelas pelayanan, dan fasilitasnya terus berubah, sementara nama Solo tetap menjadi bagian penting perjalanan.
“Sejak Senja Utama Solo hadir pada 1978, beberapa generasi pelanggan telah tumbuh bersama layanan ini. Rangkaian, kelas pelayanan, dan fasilitasnya terus berubah, sementara nama Solo tetap menjadi bagian penting dari perjalanannya,” ujar Anne dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Seiring waktu, perjalanan pada koridor tersebut berkembang menjadi pasangan layanan yang mengikuti ritme pagi dan malam. Fajar Utama Solo melayani perjalanan dari Jakarta menuju Solo, sedangkan Senja Utama Solo membawa penumpang dari Solo menuju Jakarta.
Keduanya kini melayani lintas Pasar Senen dan Solo Balapan melalui Yogyakarta serta Purwokerto. Nama Fajar dan Senja menjadi penanda sederhana tentang kapan perjalanan dimulai dan ke mana kereta membawa penumpangnya.
Perubahan Terus Datang
Namun, perjalanan kereta ini tidak selalu menggunakan konfigurasi seperti sekarang. Memasuki dekade 1990-an, Senja Utama Solo sempat membawa kereta eksekutif-A, eksekutif-B, hingga couchette atau kereta tidur dengan tempat tidur tetap.
Catatan pada 25 November 1994 bahkan mencantumkan tarif layanan couchette sebesar Rp33.000. Pada masa itu, perjalanan malam Solo dan Jakarta menawarkan pengalaman beristirahat di atas kereta yang berbeda dari perjalanan dengan tempat duduk biasa.
Perubahan terus datang bersama zaman dan kebutuhan perjalanan. Setelah melewati periode tersebut, rangkaiannya kembali menggunakan layanan bisnis sebelum kelas eksekutif kembali menjadi bagian Fajar dan Senja Utama Solo pada 2016.
Dua tahun kemudian, wajah kereta itu berubah lagi ketika mulai 21 Mei 2018 digunakan rangkaian berbahan baja nirkarat produksi PT INKA. Layanan tersebut membawa kelas eksekutif dan ekonomi premium dalam satu perjalanan.
Perubahan berikutnya terjadi ketika Grafik Perjalanan Kereta Api atau Gapeka 2019 berlaku pada 1 Desember 2019. Pengaturan perjalanan membuat kereta dari Jakarta berangkat pada pagi hari, sementara perjalanan dari Solo menuju Jakarta berlangsung pada malam hari.
Dari situlah penamaan Fajar dan Senja semakin mudah dibaca melalui waktu perjalanannya. Fajar mengantar perjalanan pagi menuju Solo, sedangkan Senja membawa perjalanan malam menuju Jakarta.
Babak baru kembali hadir pada 31 Januari 2025 ketika Fajar dan Senja Utama Solo mulai menggunakan rangkaian campuran kelas eksekutif dan ekonomi generasi terbaru. Rangkaian berbahan baja nirkarat tersebut diproduksi PT INKA Madiun.
Di sepanjang lintasan waktu itu, wajah kereta terus berubah. Yang dahulu berangkat dengan rangkaian buatan Yugoslavia kini berjalan menggunakan sarana generasi terbaru yang diproduksi industri perkeretaapian Indonesia.
Hampir lima dekade perjalanan itu akhirnya bukan hanya cerita tentang kereta dan rel. Ia juga menjadi potongan kecil dari perubahan cara masyarakat bepergian, dari satu generasi penumpang kepada generasi berikutnya.
Menariknya, perjalanan tersebut belum menjadi cerita masa lalu. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Fajar Utama Solo melayani 148.669 pelanggan, meningkat 7,65 persen dibandingkan 138.102 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Maret menjadi bulan dengan jumlah pelanggan tertinggi sepanjang delapan bulan tersebut, mencapai 21.068 orang. Pada periode yang sama, jumlah pelanggan bertambah 10.567 orang dibandingkan Januari hingga Agustus 2025.
Angka itu memberi warna berbeda pada cerita sebuah kereta yang telah melewati hampir lima dekade. Ketika rangkaian dan fasilitas berubah mengikuti zaman, masih ada penumpang yang memilih perjalanan melalui jalur yang sama.
Mungkin bagi sebagian orang, perjalanan dengan Fajar atau Senja Utama Solo hanyalah perjalanan menuju kota tujuan. Namun bagi perjalanan yang telah dimulai sejak 1978, setiap keberangkatan juga menyimpan jejak zaman yang terus bergerak.
Dari kereta bisnis Goša, pengalaman couchette pada dekade 1990-an, hadirnya kembali kelas eksekutif, hingga rangkaian baja nirkarat produksi INKA, sejarahnya berjalan mengikuti perubahan industri kereta api Indonesia. Nama Fajar dan Senja tetap menjadi benang merah di antara berbagai perubahan tersebut.
“Sejarah panjang Fajar dan Senja Utama Solo terus berlanjut melalui pelanggan yang masih memilih layanan ini hingga sekarang. KAI akan menjaga identitas historisnya sambil terus mengembangkan kualitas perjalanan sesuai kebutuhan pelanggan,” kata Anne.

