Jakarta, Rasional.co – Pemerintah menargetkan Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar digital besar, tetapi berkembang menjadi basis produksi, inovasi, dan investasi digital di Asia Tenggara.
Target tersebut didorong melalui penguatan infrastruktur digital, pusat data, komputasi awan, kecerdasan artifisial (AI), talenta digital, serta kepastian regulasi untuk menarik investor.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan Indonesia siap bekerja sama dengan perusahaan Amerika Serikat yang ingin membangun bisnis untuk pasar Indonesia, ASEAN, hingga kawasan Asia-Pasifik.
“Indonesia siap beralih dari pasar digital besar menjadi basis produksi, inovasi, dan investasi digital utama di Asia Tenggara,” ujar Nezar dalam 14th US-Indonesia Investment Summit di Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
Menurut Nezar, investor tidak hanya membutuhkan jumlah pengguna, tetapi juga infrastruktur, kapasitas cloud, keamanan aliran data, talenta berkualitas, dan kebijakan yang dapat diprediksi.
Kebutuhan tersebut ditopang oleh perkembangan infrastruktur digital Indonesia, dengan jumlah pengguna internet mencapai 235 juta atau 81,72 persen populasi pada awal 2026.
Infrastruktur serat optik juga telah mencapai 460.000 kilometer dan menjangkau lebih dari 5.000 kecamatan, sementara pemerintah memperkuat konektivitas melalui Palapa Ring dan SATRIA-1.
SATRIA-1 memiliki kapasitas 150 Gbps untuk sekitar 37.000 titik layanan publik dan dirancang membantu menghubungkan hingga 45 juta masyarakat yang sebelumnya belum memperoleh akses memadai.
Pemerintah juga menargetkan kecepatan broadband seluler menuju 100 Mbps pada 2029, termasuk melalui optimalisasi spektrum pita menengah untuk jaringan 5G.
Di sisi investasi, pemerintah menawarkan peluang pada pusat data, komputasi awan, kabel bawah laut, infrastruktur komputasi, dan energi terbarukan.
Peluang tersebut dikaitkan dengan potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp4.000 triliun pada 2029, menurut Nezar.
Pengembangan AI juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Kemkomdigi menyusun peta jalan AI nasional 2026-2029 yang melibatkan lebih dari 30 kementerian dan lembaga dengan prioritas antara lain kesehatan, pendidikan talenta digital, reformasi birokrasi, kota pintar, dan ketahanan pangan.
Pemerintah juga menyiapkan tata kelola pusat data nasional, cloud pemerintah, infrastruktur publik digital, serta peta jalan infrastruktur digital.
Dalam kerangka tersebut, pemerintah membuka kolaborasi dengan perusahaan AS untuk riset AI, penerapan AI yang bertanggung jawab, solusi bahasa dan konteks lokal, infrastruktur AI, keamanan siber, serta pengembangan talenta.
Agenda tersebut telah diikuti investasi perusahaan teknologi AS. Microsoft mengumumkan investasi US$1,7 miliar untuk cloud dan AI di Indonesia, sedangkan AWS telah menginvestasikan US$5 miliar sejak 2021 dengan komitmen investasi hingga 2036.
Nezar mengatakan investasi tersebut tidak hanya membawa modal, tetapi juga kemampuan rekayasa, mitra lokal, kolaborasi penelitian, pengembangan tenaga kerja, dan layanan bagi perusahaan di Indonesia.
Untuk mendukung investasi, pemerintah menyiapkan regulasi melalui konsultasi awal, panduan implementasi, standar transparan, serta dialog publik-swasta.
Menurut Nezar, kepastian regulasi bukan berarti aturan tidak berubah, melainkan setiap perubahan dijelaskan, dikonsultasikan, dan diterapkan secara adil.
“Mari kita bangun kepercayaan itu melalui proyek-proyek konkret, hasil yang terukur, dan ekonomi digital yang terbuka terhadap inovasi, berlandaskan kepercayaan, dan inklusif dalam manfaatnya,” kata Nezar.

