Jakarta, Rasional.co – Dua startup asal Indonesia mengembangkan inovasi teknologi untuk mendukung pencegahan, mitigasi, penanganan, hingga pemulihan bencana, mulai dari pemetaan wilayah terdampak hingga penyediaan energi darurat.
TechnoGIS dari Sleman, Yogyakarta, mengembangkan teknologi geospasial untuk menyediakan data dan analisis secara real time. Sementara BATARI Energy dari Cimahi, Jawa Barat, mengembangkan solusi energi surya dan penyimpanan energi yang dapat digunakan untuk mendukung penanganan kondisi pascabencana.
Salah satu teknologi TechnoGIS, NiVO VTOL, mampu menyediakan data geospasial dan analisis secara komprehensif dengan pengiriman data secara real time. Teknologi ini dapat membantu pemetaan wilayah terdampak bencana secara cepat dan efisien.
Untuk kebutuhan mitigasi, TechnoGIS juga mengembangkan Blue Marine Echosounder, perangkat echosounder batimetri untuk mengukur kedalaman bawah laut dan menganalisis sedimen. Teknologi tersebut antara lain dapat digunakan untuk memetakan jalur patahan bawah laut guna memahami potensi bahaya.
Teknologi serupa juga dapat membantu memetakan perubahan alur sungai akibat sedimentasi atau banjir sehingga informasi tersebut dapat mendukung upaya mengurangi risiko banjir luapan.
Sementara itu, BATARI Energy mengembangkan panel surya dan perangkat energi portabel yang dapat menyediakan energi darurat setelah terjadi bencana. Perusahaan ini juga mengembangkan baterai berkapasitas tinggi dengan bobot ringan untuk mendukung pengoperasian drone dalam pemetaan wilayah terdampak.
Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari kemitraan Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) dengan TechnoGIS dan BATARI Energy. PIDI 4.0 merupakan technology and digital hub yang dibangun Kementerian Perindustrian untuk memperkuat ekosistem transformasi industri 4.0.
Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan, kemitraan dengan kedua startup tersebut telah menghasilkan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi pencegahan dan penanggulangan bencana.
“Terkait dengan bidang penanggulangan bencana, PIDI 4.0 Kementerian Perindustrian memiliki kemitraan dengan dua startup, yaitu TechnoGIS dari Sleman, Yogyakarta dan BATARI Energy dari Cimahi, Jawa Barat,” ujar Adie.
Kementerian Perindustrian juga menghadirkan kedua startup tersebut dalam Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026 yang diselenggarakan BNPB pada 9-12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Partisipasi itu ditujukan untuk memperkenalkan kemampuan teknologi dalam negeri sekaligus membuka peluang kerja sama business-to-business (B2B) di tingkat global dalam pengembangan teknologi kebencanaan.
Upaya tersebut sejalan dengan pandangan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bahwa transformasi digital perlu berorientasi pada manfaat teknologi bagi masyarakat.
“Komponen terpenting pada proses transformasi digital berupa kesadaran manfaat penggunaan peralatan digital, tidak hanya sekadar kemampuan adopsi teknologi, namun harus sejalan dengan perubahan mindset digital,” ujar Agus dalam keterangannya.
Selain teknologi, Kementerian Perindustrian memperkuat dukungan melalui penyiapan sumber daya manusia industri. Politeknik APP Jakarta memiliki Program Studi D3 Manajemen Logistik Industri Elektronika yang kompetensinya berkaitan dengan kebutuhan logistik dalam mitigasi, penanganan keadaan darurat, hingga pemulihan pascabencana.
Pengembangan teknologi dan kompetensi SDM tersebut diharapkan memperkuat ekosistem kebencanaan yang tidak hanya mengandalkan teknologi canggih, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

