JAKARTA = Di tengah kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan ini bikin sesak napas, sekadar menutup pintu rumah ternyata belum cukup. Kamu butuh strategi yang lebih cerdas buat melindungi diri dan keluarga, salah satunya dengan rajin mengecek indikator kualitas udara.
Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), indikator kualitas udara ini bukan sekadar angka pajangan. Ini adalah “kompas” penting buat masyarakat untuk menentukan apakah hari ini aman buat beraktivitas di luar, seperti ngantor atau antar anak sekolah.
Zona Merah atau Kuning? Begini Cara Membacanya
Nggak perlu bingung baca data kualitas udara. Sederhananya, perhatikan warna indikatornya. Rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebutkan kalau update polutan ini harus jadi patokan utama kita sehari-hari saat krisis asap.
“Kalau indikatornya sudah merah, ya mending jangan keluar rumah. Waktunya anak-anak sekolah dari rumah, dan pekerja terapkan WFH,” jelas Prof. Tjandra.
Lalu, gimana kalau warnanya kuning? Menurutnya, situasi ini masih bisa ditoleransi, tapi dengan catatan penting: pastikan sekolah atau tempat kerjamu punya sirkulasi udara yang bagus dan fasilitas pendukung untuk menjaga kebersihan udara di dalam ruangan.
Jangan Asal Pilih Masker Saat Darurat Asap Karhutla
Kalau kondisi memang memaksa kamu harus keluar rumah, jangan pernah kompromi soal masker. Lupakan sejenak masker kain tipis yang biasa dipakai buat gaya. Tingkat kepekatan asap karhutla butuh penyaring yang lebih serius.
Prof. Tjandra sangat menyarankan penggunaan masker dengan kualitas terbaik untuk masyarakat umum, seperti masker N95. Sementara itu, untuk para petugas pemadam kebakaran di lapangan, standar keselamatannya tentu lebih tinggi, yakni wajib menggunakan respirator khusus.
Bertahan di Dalam Rumah: Perlukah Beli Air Purifier?
Buat kamu yang stay di dalam ruangan, langkah pertama yang paling krusial adalah menutup semua ventilasi atau celah yang bisa bikin udara kotor dari luar nyelonong masuk.
Bagaimana dengan air purifier atau penjernih udara? Alat ini memang ngebantu banget buat membersihkan sirkulasi udara di rumah. Tapi, Prof. Tjandra mengingatkan supaya warga nggak perlu sampai panic buying.
“Kalau sudah punya air purifier, silakan dipakai. Tapi bukan berarti semua orang harus buru-buru beli. Efektivitas alat ini juga sangat bergantung pada seberapa pekat asap yang mengepung rumah kita. Kita nggak pernah tahu pasti kemampuan sedotnya sekuat apa kalau asapnya sudah sangat ekstrem,” paparnya.
Jangan Remehkan Gejala ISPA, Segera Periksa!
Menghirup asap beracun dari menit ke menit itu ibarat nabung penyakit. Jadi, kalau kamu atau anggota keluarga mulai ngerasain gejala seperti batuk, pilek, atau sesak napas, jangan tunda ke dokter.
Terutama untuk kelompok rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, atau mereka yang punya penyakit bawaan (komorbid) seperti asma. “Jangan tunggu sampai dua atau tiga hari baru berobat. Kalau hari ini ada keluhan, hari ini juga langsung ke faskes supaya penanganannya cepat dan tepat,” tegas Prof. Tjandra.
Alarm Kemenkes: Jutaan Warga Terdampak Darurat Karhutla 2026
Bahaya karhutla tahun ini memang nggak main-main. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat ada sekitar 5,4 juta jiwa yang tersebar di tujuh provinsi terdampak langsung oleh bencana ini. Ketujuh provinsi yang kini berstatus siaga darurat meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Dampak kesehatannya? Sangat mengkhawatirkan. Dr. Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, membeberkan fakta bahwa hingga akhir Agustus 2026 saja, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sudah tembus lebih dari 50 ribu kasus.
“Yang paling bikin sedih, hampir 40 ribu dari total kasus ISPA tersebut menyerang kelompok usia di atas lima tahun dan juga para lansia,” ungkap ImraN.

