JAKARTA – Langkah Barcelona mengamankan servis Rodri dari Manchester City di bursa transfer musim panas ini memicu perdebatan sengit. Blaugrana sukses mengungguli Real Madrid demi mendapatkan tanda tangan gelandang bertahan berusia 30 tahun tersebut setelah memikat sang jawara Ballon d’Or lewat proyek olahraga yang ditawarkan.
Kekecewaan Real Madrid tentu masuk akal—kehilangan target kelas wahid yang justru menyeberang ke rival abadi jelas terasa menyesakkan. Namun, dari sudut pandang pengamat media Spanyol seperti Edu Aguirre di program El Chiringuito, langkah yang diambil manajemen Barcelona ini dinilai kurang logis dan cenderung berlebihan.
Alasan utama di balik kritik Aguirre bersumber pada melimpahnya stok lini tengah yang dikomandoi Hansi Flick saat ini. Barcelona sudah memiliki sederet amunisi jempolan seperti Pedri, Gavi, Dani Olmo, Fermín López, hingga talenta muda Marc Bernal. Aguirre menyoroti bahwa Bernal diproyeksikan sebagai pilar masa depan klub, sehingga kedatangan Rodri justru berisiko memangkas menit bermain sang pemain muda secara signifikan.
Dengan pengeluaran hampir €80 juta untuk posisi yang sebenarnya sudah terisi dengan baik, investasi ini terasa janggal—terutama di tengah prioritas belanja posisi lain yang tak kalah menguras kas klub.
Manuver mendadak Barcelona mengejar Rodri melahirkan teori tersendiri. Aguirre menilai Joan Laporta memanfaatkan momen ini untuk mencuri panggung dari Real Madrid sekaligus membakar semangat para pendukung Catalan.
Momentum tersebut bertepatan dengan negosiasi pemboyongan Julián Álvarez yang dinilai mulai berjalan alot. Mengamankan salah satu gelandang terbaik dunia dari incaran sang rival dipandang sebagai taktik politik cerdas Laporta untuk mengalihkan narasi bursa transfer.
Meski begitu, tuduhan bahwa pembelian Rodri sekadar pengalihan isu dari saga Julián Álvarez dinilai tidak sepenuhnya berdasar, mengingat peluang Barça memboyong penyerang Argentina tersebut sejatinya masih sangat terbuka lebar.

