Jakarta, Rasional.co – Jawa Timur menyumbang sekitar 50 persen produksi gula nasional. Besarnya kontribusi tersebut mendorong Kementerian Pertanian memperkuat hilirisasi industri gula sekaligus menargetkan peremajaan tebu rakyat di provinsi itu tuntas pada 2028.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penguatan sektor tebu Jawa Timur penting untuk menjaga keberlanjutan produksi gula nasional. Menurut dia, peningkatan produksi perlu diikuti pembenahan industri pengolahan agar memberikan nilai tambah bagi petani dan industri gula.
“Kita kawal gula di Jawa Timur karena kontribusinya sangat besar. Ke depan, kita dorong hilirisasi dan peremajaan tebu rakyat. Targetnya, pada 2028 peremajaan ini bisa dituntaskan,” kata Amran dalam Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di Kantor DPRD Provinsi Jawa Timur, awal pekan ini.
Pernyataan tersebut menempatkan peremajaan tanaman dan hilirisasi sebagai dua agenda yang saling berkaitan dalam penguatan sektor gula. Namun, Kementerian Pertanian belum merinci luas lahan tebu yang akan diremajakan, kebutuhan anggaran, maupun jumlah petani yang menjadi sasaran program.
Peremajaan tebu rakyat menjadi salah satu perhatian pemerintah untuk mempertahankan kapasitas produksi. Sementara itu, hilirisasi diarahkan untuk memperkuat pengolahan hasil perkebunan sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya bertumpu pada produksi bahan baku.
Jatim Jadi Penopang Produksi Pangan
Dalam kesempatan yang sama, Amran mengapresiasi posisi Jawa Timur sebagai salah satu penopang utama produksi pangan nasional. Selain gula, ia menyebut provinsi ini memiliki produksi padi tertinggi, sektor ayam yang kuat, dan produksi jagung dalam jumlah besar.
“Kami bangga dengan Jawa Timur. Produksi padinya tertinggi, sektor ayamnya kuat, jagungnya juga besar, dan gulanya nomor satu. Karena itu, dukungan anggaran Kementan untuk Jawa Timur juga menjadi yang terbesar,” ujarnya.
Amran menyebut dukungan anggaran Kementerian Pertanian untuk Jawa Timur mencapai sekitar Rp3 triliun sepanjang 2025 hingga 2026. Pemerintah juga menambahkan Rp600 miliar untuk memperkuat sektor peternakan, termasuk pengembangan pembibitan ayam.

