Jakarta, Rasional.co – Peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengembangkan Trustworthy Explainable Artificial Intelligence (TREX AI) untuk mendeteksi dan mengukur risiko ekstremisme keagamaan di ruang digital.
Model berbasis kecerdasan buatan tersebut dirancang tidak sekadar untuk menemukan konten, tetapi juga membaca narasi ekstremisme yang muncul, waktu kemunculannya, serta wilayah persebarannya. Pengembangannya dilakukan tim dosen-peneliti Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta.
TREX AI dikembangkan melalui penelitian bertajuk “Model Komunikasi Politik Digital Berbasis TREX-AI Untuk Pengukuran Risiko Ekstremisme Keagamaan Digital di Indonesia”. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan lintas disiplin yang melibatkan komunikasi politik, ilmu dakwah, psikologi, dan sosiologi.
Tim menggunakan metode Mixed Method Sequential Explanatory melalui survei terhadap 1.500 responden di 33 provinsi, evaluasi psikometrik, analisis SEM-PLS, serta Focus Group Discussion (FGD). Dalam pengembangan instrumen, peneliti memvalidasi 67 butir hingga menghasilkan 34 indikator final yang menjadi dasar perancangan TREX AI.
Cara TREX AI Membaca Ekstremisme Digital
Dalam pengembangannya, TREX AI dirancang untuk membaca percakapan di media sosial melalui big data crawling. Prototype tersebut diarahkan untuk memetakan narasi ekstremisme yang muncul sekaligus menunjukkan waktu kemunculan dan wilayah persebarannya.
Hasil pemantauan itu selanjutnya ditargetkan dapat dikembangkan dalam bentuk dashboard. Dashboard tersebut akan memungkinkan analisis lebih mendalam terhadap narasi yang telah teridentifikasi.
Dekan FDIKOM UIN Jakarta sekaligus Ketua Tim Peneliti, Profesor Gun Gun, mengatakan ekstremisme digital tidak cukup dipandang sebagai persoalan teknologi. Menurut dia, fenomena tersebut juga perlu dibaca melalui komunikasi politik, termasuk aktor, pembingkaian narasi keagamaan, dan tata kelola platform digital.
“Kekuasaan komunikasi bergeser dari kemampuan memproduksi pesan ke kemampuan mengatur keterlihatannya,” ujar Gun Gun di Ciputat, Rabu (7/10/2026).
Karena itu, sistem yang dikembangkan tidak diarahkan hanya untuk mendeteksi konten ekstremisme. Peneliti juga ingin TREX AI memberikan gambaran mengenai kontestasi narasi di ruang digital dan bekerja dengan pendekatan trustworthy explainable artificial intelligence, bukan sebagai sistem yang bersifat black box.
Diarahkan Jadi Dasar Kebijakan
Penelitian tersebut juga diharapkan menghasilkan Digital Religious Extremism Risk Index (DRERI). Indeks ini ditargetkan dapat menjadi salah satu dasar dalam pengembangan kebijakan terkait risiko ekstremisme keagamaan digital.
Gun Gun berharap hasil penelitian tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan Kementerian Agama, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Menurut dia, hasil penelitian dapat diarahkan menjadi bahan kebijakan di ketiga lembaga tersebut.
“Saya harapkan jadi policy di Kementerian Agama, policy di Kementerian Komdigi, sekaligus juga nanti bisa berjejaring dengan BNPT,” pungkasnya.

