Jakarta – Perusahaan dan institusi di Indonesia yang tengah memodernisasi sistem teknologi informasi perlu menyeimbangkan kebutuhan akan fleksibilitas dan efisiensi dengan aspek keamanan, kewajiban regulasi, serta kontrol terhadap data strategis.
Prioritas itu menjadi sorotan yang dibahas Canonical, Mastersystem, dan Sivali Cloud Technology dalam forum “Future Ready Infrastructure: Secure, Compliant & Cost-Efficient” yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ajang itu memperkenalkan solusi enterprise Canonical kepada perwakilan dari 17 perusahaan yang bergerak di sektor perbankan, sekuritas, asuransi, teknologi informasi, manufaktur, minyak dan gas, serta pendidikan tinggi.
Program ini tidak hanya membahas open source sebagai pilihan terkait lisensi perangkat lunak. Diskusi berfokus pada berbagai aspek operasional yang menentukan kesiapan teknologi open source dalam mendukung workload yang bersifat mission-critical, mulai dari pengelolaan kerentanan dan patch, visibilitas terhadap dependensi perangkat lunak, sumber perangkat lunak tepercaya, periode pemeliharaan keamanan, hingga ketersediaan tenaga teknis yang kompeten.
Leo Sun, Senior Sales Manager GCR & ASEAN Canonical, membahas tren adopsi open source di tingkat global dan regional. Ia menjelaskan sejumlah alasan organisasi mempertimbangkan infrastruktur open source, antara lain untuk mengurangi biaya, mempercepat pengembangan, serta memungkinkan sistem dikustomisasi sesuai kebutuhan.
Namun, menurutnya, adopsi open source juga menghadirkan tanggung jawab praktis terkait pengelolaan rantai pasok perangkat lunak.
“Dalam mengadopsi open source, organisasi sering menghadapi berbagai tantangan. Isu terbesar adalah vulnerability and patch management, disusul kurangnya visibilitas terhadap dependensi sistem,” ujar Sun.
Forum tersebut juga membahas solusi enterprise Canonical berbasis Ubuntu untuk kebutuhan data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sikander Singh, Telco Field Engineering Manager APAC Canonical, menyoroti biaya lisensi sistem operasi konvensional, kecepatan pengembangan pipeline machine learning, serta kebutuhan kepatuhan keamanan di seluruh data stack.
Ia memaparkan pendekatan Canonical dalam mengoptimalkan teknologi open source untuk workload data dan AI, dengan fokus pada pengurangan beban biaya lisensi dan penyederhanaan operasional.
Bagi perusahaan di Indonesia, pilihan teknologi tersebut juga berkaitan dengan lokasi penyimpanan data, tata kelola sistem, serta kemampuan infrastruktur dalam memenuhi kebutuhan spesifik di setiap sektor. Ryo Ardian, Executive Vice President Sivali Cloud Technology, menjelaskan relevansi teknologi Canonical dengan kebutuhan implementasi di Indonesia, mulai dari lingkungan multi-cloud, on-premises, hingga edge.
“Di Indonesia, sektor dengan regulasi ketat seperti perbankan, keuangan, serta minyak dan gas membutuhkan kepastian bahwa data strategis mereka dikelola di data center yang memenuhi standar keamanan nasional maupun internasional,” ujar Ryo.
Perspektif implementasi lokal menjadi salah satu fokus utama dalam forum tersebut. Organisasi mungkin membutuhkan portabilitas dan fleksibilitas kustomisasi yang ditawarkan perangkat lunak open source, tetapi tetap harus mempertimbangkan pengelolaan patch, dukungan teknis, ketersediaan talenta, serta persyaratan regulasi sepanjang siklus hidup teknologi.
Forum ini memberikan ruang bagi peserta dari kalangan perusahaan untuk membandingkan berbagai pertimbangan tersebut melalui presentasi, diskusi, serta sesi tanya jawab bersama perusahaan yang terlibat.
Founder dan CEO Sivali Cloud Technology Wong Sui Jan menjelaskan bahwa pertimbangan komersial utama dalam pemilihan teknologi adalah efisiensi investasi TI dalam jangka panjang tanpa mengorbankan keamanan dan kualitas yang dibutuhkan perusahaan.
Diskusi yang berkembang dalam forum tersebut juga menempatkan pemilihan teknologi sebagai salah satu bagian dari proses pengambilan keputusan. Implementasi yang andal, dukungan berkelanjutan, serta kapabilitas teknis di tingkat lokal tetap dibutuhkan agar perusahaan dapat mengubah adopsi open source menjadi nilai operasional.
Bagi perusahaan dan lembaga yang tengah mengevaluasi infrastruktur untuk workload cloud, data, dan AI, forum ini mengidentifikasi sejumlah aspek praktis yang perlu dikaji sebelum implementasi. Aspek tersebut mencakup asal dan sumber perangkat lunak, durasi dan cakupan pemeliharaan keamanan, visibilitas terhadap dependensi, kapabilitas internal, lokasi implementasi, serta kesesuaian dengan regulasi yang berlaku.
Dengan menjawab berbagai pertanyaan tersebut sejak awal, pengambil keputusan dapat membandingkan pilihan berdasarkan risiko sepanjang siklus hidup dan kebutuhan operasional, bukan hanya berdasarkan biaya lisensi.
Pendekatan ini juga dapat memberikan landasan yang sama bagi tim pengadaan, keamanan, dan teknis dalam mengevaluasi dukungan, tata kelola, serta pilihan implementasi sebelum workload yang bersifat kritis dijalankan pada platform baru.*

