JAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI) mengusung tema “Meneladani Rasulullah SAW, Memperkuat Persaudaraan, Mengisi Kemerdekaan dengan Kepedulian kepada Umat,” menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan bangsa, serta membangkitkan semangat pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari upaya mengisi kemerdekaan Indonesia.
Kegiatan yang digelar di Kantor DPP Syarikat Islam ini turut dihadiri Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, serta Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Mardiono.
Hamdan Zoelva: Islam, Nasionalisme, dan Keindonesiaan Merupakan Satu Kesatuan
Presiden Laznah Tanfidziah Syarikat Islam Hamdan Zoelva menegaskan bahwa semangat perjuangan Syarikat Islam sejak awal berdirinya memiliki keterkaitan erat dengan upaya membangun kemerdekaan Indonesia.
Menurut Hamdan, terdapat tiga landasan yang senantiasa menjadi bagian penting dalam perjuangan Syarikat Islam, yakni Islam, nasionalisme, dan keindonesiaan.
“Bagi Syarikat Islam, ada tiga dasar yang selalu berkelindan, yaitu Islam, nasionalisme, dan keindonesiaan. Itu merupakan satu kesatuan,” ujarnya.
Perjuangan Syarikat Islam pada masa awal tidak dapat dipisahkan dari persoalan ekonomi. Ketertinggalan ekonomi masyarakat berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan kesehatan.
Karena itu, menurut Hamdan, semangat dasar perjuangan Syarikat Islam perlu kembali dihidupkan melalui penguatan gerakan ekonomi umat.
Ia menilai, kemajuan umat Islam dan kemajuan Indonesia merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
“Majunya umat Islam adalah majunya Indonesia, majunya Indonesia adalah majunya umat Islam. Meningkatnya harkat dan martabat ekonomi umat, sudah pasti meningkat juga harkat dan martabat ekonomi bangsa Indonesia,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk mendorong kontribusi nyata umat dalam pembangunan ekonomi nasional.

AYP: Maulid Nabi Menjadi Momentum Memperkuat Persatuan Indonesia
Pengurus Pusat Syarikat Islam Andi Yuslim Patawari (AYP) mengatakan, Maulid Nabi hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai peringatan kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai momentum untuk meneladani akhlak dan perjuangan beliau dalam membangun persaudaraan, kepedulian, serta kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Mari bersama-sama memperingati kelahiran Rasulullah SAW, meneladani akhlak dan perjuangan beliau, mempererat ukhuwah, serta memanjatkan doa untuk para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah SAW tetap relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial.
“Mari meneladani Rasulullah, memperkuat persaudaraan, dan mengisi kemerdekaan dengan kepedulian kepada umat,” tegasnya.
Hikmah Maulid Nabi, AYP Dorong Penguatan Ekonomi Indonesia
Pria yang menjabat Waketum Kadin ini juga menguraikan lima hikmah Maulid Nabi yang dinilai penting untuk menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman sekaligus memperkuat fondasi kehidupan sosial dan ekonomi nasional.
Menurut AYP, salah satu teladan penting dapat dipetik dari Piagam Madinah. Piagam tersebut memberikan pelajaran mengenai pentingnya membangun kehidupan bersama di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.
Rasulullah SAW mempersatukan berbagai kelompok masyarakat Madinah, termasuk kaum Muhajirin, Anshar, Yahudi, dan sejumlah suku Arab, melalui kesepakatan bersama yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Semangat tersebut sangat relevan dengan kehidupan Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan agama, suku, maupun pilihan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah persatuan bangsa.
“Walaupun berbeda agama, suku, dan pilihan politik, kita tetap berada dalam satu tanah air. Di Kadin pun demikian, pengusaha besar, UMKM, dan koperasi duduk bersama dalam satu forum,” ujarnya.
Selain persatuan dalam keberagaman, AYP menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin. Nilai tersebut dinilai menjadi antitesis terhadap berbagai tindakan yang berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan masyarakat agar menjauhi ujaran kebencian, hoaks, maupun politik identitas yang dapat memperlebar perbedaan. Dalam dunia usaha, persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi harus dijalankan secara sehat dan tidak dengan cara saling menjatuhkan.
“Di dunia usaha, persaingan merupakan hal yang wajar, tetapi jangan sampai dilakukan dengan saling menjatuhkan. Kita membutuhkan ekosistem ekonomi yang saling menguatkan,” katanya.
Andi Yuslim juga menyoroti pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan berbagai perbedaan. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi maupun organisasi.
Namun, perbedaan tersebut harus disikapi melalui dialog dan kemauan untuk mencari titik temu. Musyawarah menjadi sarana untuk mencegah perbedaan berkembang menjadi konflik yang dapat merusak persatuan.
“Perbedaan pendapat di DPR, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi lainnya merupakan hal yang wajar. Kuncinya adalah duduk bersama dan mencari titik temu,” ujarnya.
Ia menilai semangat tersebut juga sejalan dengan semangat Rapimnas Kadin, yakni “Satu data, satu suara untuk ekonomi.” Menurutnya, kesamaan visi dan kemauan untuk bekerja sama menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi nasional.
Hikmah lainnya yang disampaikan AYP adalah semangat gotong royong dalam membangun peradaban. Ia mencontohkan pembangunan Masjid Nabawi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat sebagai gambaran pentingnya kebersamaan dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Pembangunan Indonesia tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak secara sendiri-sendiri. Pemerintah, sektor swasta, UMKM, koperasi, dan masyarakat harus mengambil peran sesuai dengan kapasitas masing-masing.
“Pembangunan tidak dapat berjalan apabila dilakukan secara sendiri-sendiri. Pemerintah, sektor swasta, UMKM, dan masyarakat harus bergotong royong,” katanya.
Semangat kolaborasi tersebut diperlukan untuk menjalankan berbagai agenda strategis nasional, termasuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong hilirisasi, serta memperkuat koperasi sebagai bagian dari fondasi perekonomian nasional.
Sementara itu, hikmah terakhir yang ditekankan adalah pentingnya menerjemahkan kecintaan kepada tanah air melalui tindakan nyata, seperti kecintaan Rasulullah SAW terhadap Mekah sebagai gambaran kuatnya ikatan seseorang dengan tanah kelahirannya.
Dalam konteks Indonesia, kecintaan terhadap tanah air dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan konkret, termasuk mendukung produk dalam negeri, membanggakan UMKM lokal, serta turut memperkuat perekonomian nasional.
“Mencintai produk dalam negeri, membanggakan UMKM lokal, dan membela ekonomi bangsa merupakan bagian dari wujud kecintaan kita kepada Indonesia,” tutur AYP.
Nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW tersebut tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan Indonesia saat ini. Persatuan, sikap saling menghormati, musyawarah, gotong royong, serta kecintaan terhadap tanah air dapat menjadi kekuatan bersama dalam membangun bangsa.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diterjemahkan menjadi semangat untuk memperkuat persatuan sekaligus membangun ekonomi Indonesia yang inklusif, berdaya saing, dan saling menguatkan.
Maulid Nabi dan Semangat Kebangkitan Ekonomi Umat
Pesan Hamdan Zoelva mengenai pentingnya gerakan ekonomi umat sejalan dengan semangat yang disampaikan AYP tentang gotong royong dan penguatan ekonomi bangsa.
Bagi Syarikat Islam, perjuangan membangun umat tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga mencakup persoalan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Penguatan ekonomi umat dinilai menjadi bagian penting dalam mengisi kemerdekaan. Ketika masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap kesempatan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, kualitas kehidupan bangsa juga akan meningkat.
Karena itu, semangat Maulid Nabi dapat diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan UMKM, pengembangan koperasi, dukungan terhadap produk dalam negeri, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Doa untuk Para Pahlawan Kemerdekaan
Selain memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa bagi para pahlawan kemerdekaan Indonesia.
AYP mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa.
Karena itu, generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan karya, kepedulian, persaudaraan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW, seperti persaudaraan, musyawarah, kejujuran, kepedulian, dan gotong royong, dinilai penting untuk terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tetapi harus diisi dengan kepedulian kepada umat, memperkuat persaudaraan, dan membangun Indonesia secara bersama-sama,” ujarnya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang diselenggarakan Syarikat Islam tersebut menjadi momentum untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, nasionalisme, persatuan, dan pemberdayaan ekonomi.
Semangat meneladani Rasulullah SAW diharapkan tidak berhenti pada peringatan tahunan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian kepada umat, penguatan ekonomi masyarakat, serta kontribusi nyata dalam membangun Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera.

