JAKARTA – Tiga raksasa konfederasi sepak bola dunia, Asia (AFC), Eropa (UEFA), serta Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) terang-terangan melayangkan kritikan tajam kepada FIFA. Melalui surat bersama, tiga federasi itu tegas menentang proyek FIFA Forward Enterprise (FFE).
Langkah balasan ini dipicu oleh rencana FIFA melepas saham komersial hak penyelenggaraan Piala Dunia ke pihak swasta. Bagi AFC, UEFA, dan Concacaf, komersialisasi berlebihan ini sangat berbahaya karena berpotensi merusak independensi serta integritas Piala Dunia—turnamen bergengsi yang akan menginjak usia satu abad pada 2030 mendatang.
“Sepak bola sejatinya milik pemain, suporter, klub, asosiasi anggota, hingga setiap lembaga yang dipercaya menjaga masa depannya. Atas dasar itulah, kami berdiri bersama menyuarakan keprihatinan ini,” bunyi petikan surat terbuka yang dirilis di laman resmi Concacaf, Senin.
Bukan Sekadar Salah Paham, Tapi Krisis Kepemimpinan FIFA
Meski wacana FFE akhirnya ditarik kembali usai gelombang protes dari berbagai organisasi sepak bola global, urusan ini nyatanya belum usai. Ketiga konfederasi justru melayangkan sorotan tajam pada aspek kepemimpinan FIFA di bawah komando Gianni Infantino.
Mereka mengingatkan bahwa memimpin badan sepak bola dunia adalah bentuk pengabdian penuh bagi seluruh komunitas sepak bola tanpa terkecuali.
Poin Utama Gelombang Protes:
- Rencana privatisasi hak komersial Piala Dunia dinilai cacat sejak awal.
- Pengambilan keputusan sepihak tanpa keterlibatan penuh Dewan FIFA.
- Minimnya transparansi dan akuntabilitas dari jajaran pimpinan FIFA.
Dalam balasan sebelumnya, FIFA sempat bergeming dan mengaburkan polemik ini sebagai sekadar “masalah komunikasi” dalam proses pengajuan. Namun, argumen tersebut langsung disanggah tajam. Bagi AFC, UEFA, dan Concacaf, masalah utamanya bukan gagap berkomunikasi, melainkan kegagalan fatal dalam mengambil keputusan.
Pertemuan Tertutup di Maroko Munculkan Tanda Tanya Besar
Kekhawatiran soal tata kelola FIFA makin memuncak setelah terungkapnya agenda pertemuan pimpinan FIFA di Maroko. Agenda tersebut hanya dihadiri segelintir komite manajemen tanpa mengikutsertakan anggota Dewan FIFA maupun asosiasi anggota lainnya.
Ketiadaan keterbukaan inilah yang memicu sinyal bahaya bagi masa depan transparansi induk organisasi sepak bola tertinggi tersebut.
“Ada keheningan saat akuntabilitas dibutuhkan. Ada jarak ketika transparansi mutlak diperlukan. Ini jelas bukan kualitas kepemimpinan yang layak bagi sepak bola,” tegas pernyataan bersama itu.
Melalui manuver tegas ini, AFC, UEFA, dan Concacaf mendesak agar prinsip persatuan dan keterbukaan kembali dijunjung tinggi—menuntut kepemimpinan yang benar-benar melayani sepak bola, bukan yang berambisi mengendalikannya.

