SUMEDANG โ Air mata haru dan rasa bangga menyelimuti pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Tahun 2026 di Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026). Di balik deretan lulusan yang resmi mengemban amanah sebagai aparatur negara, tersimpan kisah panjang perjuangan keluarga yang akhirnya berbuah prestasi.
Salah satu momen paling menyentuh datang dari Winoto Hadi, ayah Aji Bayu Ramadhan, salah seorang lulusan terbaik. Ia mengaku pencapaian putranya diraih melalui perjalanan panjang yang tidak lepas dari berbagai keterbatasan.
“Kami orang tua dari Aji Bayu Ramadhan merasa bangga karena ini mencapai prestasi tertinggi dengan segala macam keterbatasan yang kami punya, bisa mengantar anak kami untuk sampai di titik ini,” ujarnya.
- Baca juga: Dukung Program 3 Juta Rumah, Danantara Siapkan 200.000 Hunian, Bunga 2,75% & Tenor 30 Tahun
Menurut Winoto, disiplin menjadi nilai utama yang ditanamkan kepada Aji sejak kecil. Putranya juga aktif mengikuti kegiatan organisasi, Pramuka, olahraga, hingga berbagai perlombaan yang membentuk karakter kepemimpinan.Ia berharap pencapaian tersebut menjadi awal bagi putranya untuk terus mengembangkan kemampuan. Salah satu cita-cita Aji adalah melanjutkan pendidikan ke luar negeri guna memperdalam ilmu.
Haru yang sama dirasakan Wartoyo dan Siti Sofiyah, orang tua Mohamad Toriq Anwar yang masuk jajaran 10 besar lulusan terbaik. Pasangan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu mengaku bangga melihat perjuangan putranya membuahkan hasil.
“Tentunya saya sangat bangga sekali anakku bisa masuk sepuluh besar. Mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik lagi. Minta pada Bapak Presiden mudah-mudahan anak saya bisa dibimbing untuk jalan yang sebenar-benarnya dalam mengabdi kepada negara,” kata Wartoyo.
Perasaan serupa juga diungkapkan Abu Muhammad dan Yuliastin, orang tua Siti Ifadoh. Mereka mengaku tidak pernah membayangkan putri mereka menjadi salah satu lulusan terbaik IPDN.”Haru, bangga semua jadi satu. Tidak menyangka,” ujar Abu Muhammad singkat.
Kisah para keluarga itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan para pamong praja muda bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga lahir dari doa, pengorbanan, serta dukungan orang tua yang terus menyertai perjalanan mereka.
Pengabdian Baru Dimulai, Pesan Presiden Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pelantikan bukanlah garis akhir, melainkan awal pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, seorang pamong praja harus hadir sebagai aparatur negara yang melayani, melindungi, dan mengayomi rakyat.
“Saudara adalah pelayan rakyat. Saudara harus melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat, mengayomi rakyat Indonesia dengan sebaik-baiknya,” kata Presiden saat memimpin pelantikan.
Presiden juga mengapresiasi para pamong praja muda yang telah diterjunkan selama satu bulan membantu penanganan bencana di Aceh sebelum resmi dilantik. Pengalaman itu dinilai menjadi bekal penting karena aparatur negara dituntut hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Menurut Presiden, rakyat membutuhkan birokrasi yang jujur, disiplin, bersih, berani mengambil keputusan, dan selalu hadir saat dibutuhkan. Kepercayaan masyarakat terhadap negara, katanya, sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan para aparatur.
“Kalau saudara bekerja dengan baik, rakyat akan semakin percaya dan semakin cinta kepada negaranya. Tapi, kalau saudara mengecewakan rakyat, yang rusak bukan hanya nama saudara, melainkan yang rusak adalah kepercayaan rakyat kepada negara,” ujar Presiden.

