KUCHING, SERAWAK – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong kawasan Borneo menjadi hub industri halal regional melalui lima agenda strategis yang ditawarkan dalam upacara Pembukaan Borneo International Halal Showcase (BIHAS) 2026 di The Waterfront Hotel, Kuching, Sarawak.
Langkah itu diarahkan untuk memperkuat pengembangan industri halal, perdagangan, investasi, dan kerja sama ekonomi Indonesia-Sarawak.
Agenda BIHAS 2026 tersebut turut diikuti puluhan UMKM dari Kalimantan yang menampilkan berbagai produk unggulan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar dan memperkuat rantai pasok industri halal di kawasan Borneo.
- Baca juga: Dorong Persatuan Bangsa, Kadin Indonesia Gelar Festival Rakyat dan Nobar Piala Dunia di 35 Provinsi
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Andi Yuslim Patawari mengatakan kawasan Borneo memiliki kekayaan sumber daya dan kearifan lokal yang harus diubah menjadi nilai tambah melalui produk olahan, rantai pasok yang transparan, serta akses pasar yang lebih luas.
“Tantangan kita bersama adalah mengubah potensi tersebut menjadi nilai tambah nyata: produk yang terolah dengan baik, rantai pasok yang transparan, serta akses pasar yang lebih luas,” kata pria yang kerap disapa AYP ini, Rabu (22/7/26).
Menurut AYP, Kadin Indonesia mengusulkan lima agenda strategis untuk memperkuat ekosistem industri halal kawasan. Kelima agenda itu meliputi peningkatan nilai tambah produk, penguatan kapasitas UMKM, harmonisasi standar dan sertifikasi halal, integrasi ekonomi hijau dan digitalisasi, serta fasilitasi investasi dan kemitraan strategis.
“Perluasan akses pembiayaan, pendampingan teknis, dan program sertifikasi halal yang mudah diakses akan memungkinkan pelaku usaha kecil naik kelas dan terintegrasi ke rantai pasok regional,” ujarnya.
Anggota Kadin Indonesia Syahrul Natsir turut mendampingi delegasi Kadin Indonesia dalam rangkaian BIHAS 2026 bersama jajaran pengurus lainnya.
Syahrul mengatakan penguatan ekosistem industri halal di kawasan Borneo membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, dan pelaku UMKM.
“Lima agenda yang disampaikan Kadin Indonesia menjadi arah strategis untuk meningkatkan daya saing produk halal sekaligus membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas di kawasan Borneo,” ujar Syahrul Natsir.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Mempawah Erlina, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, Bupati Kubu Raya Sujiwo, serta delegasi Kadin Indonesia. Kehadiran para kepala daerah dan pelaku usaha diharapkan memperkuat sinergi pengembangan industri halal di kawasan Borneo.

