Bekasi – Di tengah malam kawasan Galaxy, Bekasi, seorang pria lanjut usia tampak duduk sendirian di atas selembar kardus di depan ruko yang telah tutup. Di sampingnya, sebuah gerobak tua berisi barang-barang bekas menjadi teman setia yang menemaninya bertahan hidup di kerasnya jalanan ibu kota penyangga Jakarta.
Pria yang akrab disapa Bapak Nadhir itu kini menjalani hidup sebagai manusia gerobak setelah usahanya berjualan sate kikil terhenti akibat kondisi kesehatan yang semakin menurun. Di usia sekitar 60 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan usaha, tempat tinggal, hingga keluarganya.
“Dulu saya jualan sate kikil di Galaxy. Karena sakit, semuanya dijual buat berobat,”
ujar Bapak Nadhir saat ditemui di kawasan Galaxy, Bekasi, Senin (18/5/2026).
Bapak Nadhira mengaku seluruh peralatan dagangnya terpaksa dijual untuk biaya pengobatan dan membayar kontrakan. Sejak satu tahun terakhir, ia hidup berpindah-pindah sambil membawa gerobak berisi barang bekas hasil memulung. Penghasilan yang diperolehnya tidak menentu dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Kalau enggak mulung, saya enggak bisa makan,”
katanya lirih.
Tidak hanya kehilangan mata pencaharian, Bapak Nadhir juga harus menghadapi cobaan berat dalam kehidupan pribadinya. Ia telah berpisah dengan istrinya dan kehilangan anak perempuan satu-satunya saat pandemi Covid-19 akibat penyakit paru-paru. Kehilangan tersebut menjadi luka mendalam yang masih membekas hingga kini.
Dalam kondisi tubuh yang mulai melemah dan penglihatan yang semakin kabur, Bapak Nadhir tetap bertahan hidup seorang diri di jalanan. Ia mengaku kerap tidur di depan ruko maupun pinggir jalan karena tidak memiliki tempat tinggal tetap. Saat hujan turun, dirinya sering kesulitan mencari tempat berteduh.
Untuk mandi dan mencuci pakaian, Bapak Nadhir biasanya menumpang di masjid sekitar. Menurutnya, perhatian dari masyarakat sekitar dan pengurus masjid justru lebih ia rasakan dibanding bantuan yang diharapkannya dari pemerintah.
“Orang-orang masjid lebih peduli sama saya,”
ungakapnya.
Bapak Nadhir juga mengaku belum pernah mendapatkan perhatian khusus dari dinas sosial selama hidup di jalanan Bekasi. Bahkan saat mencoba mengurus bantuan kesehatan seperti BPJS, dirinya merasa kesulitan karena tidak memiliki tempat tinggal tetap dan kondisi ekonomi yang terbatas.
Meski sering dipandang rendah karena hidup sebagai manusia gerobak, Bapak Nadhir masih menyimpan harapan sederhana untuk kembali bangkit dan berdagang seperti dulu.
“Saya pengen jualan lagi. Pengen hidup normal lagi,”
tutupnya.
Di usia yang tak lagi muda, Bapak Nadhir masih terus berjalan mendorong gerobaknya menyusuri jalanan kota. Di balik gerobak tua itu, tersimpan kisah tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan seorang pria lanjut usia yang ingin kembali berdiri di atas kakinya sendiri.

