Close Menu
rasional.corasional.co
    What's Hot

    Kejagung Bongkar Dugaan Mark Up MBG, Semua Pengadaan BGN Diusut

    Juni 15, 2026

    Purbaya Belum Pastikan Efisiensi MBG, Anggaran Masih Dihitung Ulang

    Juni 15, 2026

    Presiden Jerman Tiba di Jakarta, Agenda Strategis dengan Prabowo di Istana

    Juni 15, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Kejagung Bongkar Dugaan Mark Up MBG, Semua Pengadaan BGN Diusut
    • Purbaya Belum Pastikan Efisiensi MBG, Anggaran Masih Dihitung Ulang
    • Presiden Jerman Tiba di Jakarta, Agenda Strategis dengan Prabowo di Istana
    • Duka Jakim 2026, Satu Pelari Meninggal dan Banyak Peserta Tumbang
    • Perjalanan Hak Siar Piala Dunia di Indonesia: Dari TVRI hingga Era Streaming 2026
    • Jejak Pelatih Persija 10 Tahun Terakhir: Mampukah Shin Tae-Yong Akhiri Era Ketidakstabilan Macan Kemayoran?
    • Rp1,22 Triliun Disetor ke Negara, Jaksa Agung Jawab Keraguan Publik
    • Jakarta Pusat Dikepung Empat Demo, 5.955 Personel Gabungan Disiagakan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    rasional.corasional.co
    Login
    Senin, Juni 15
    • Nasional
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    rasional.corasional.co
    • Nasional
    • Dunia
    • Ekonomi
    • Lifestyle
    • Otomotif
    • Tekno
    • Sport
    • Video
    Beranda » Dari Timeline ke Track: Media Sosial Ubah Lari Jadi Gaya Hidup
    Lifestyle

    Dari Timeline ke Track: Media Sosial Ubah Lari Jadi Gaya Hidup

    AINBy AINFebruari 15, 2026Updated:Februari 15, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email Telegram Copy Link
    Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta. Dok: (Ist)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

    Jakarta – Akhir pekan pagi, kawasan car free day dipenuhi ratusan pelari dengan sepatu warna-warni dan jam pintar di pergelangan tangan. Sebagian berlari santai, sebagian lain fokus mengejar target ritme. Namun sebelum keringat mengering, aktivitas itu kerap lebih dulu hadir di linimasa media sosial mulai dari tangkapan layar aplikasi lari seperti Strava, foto outfit run, hingga video pendek bertagar morning miles.

    Fenomena ini menandai pergeseran menarik: dari timeline ke track. Apa yang awalnya viral di media sosial kini menjelma menjadi praktik nyata di ruang publik. Lari bukan lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari gaya hidup yang dibangun, diceritakan dan dibagikan.

    Media Sosial Membentuk Persepsi

    Dalam perspektif Teori Agenda Setting, intensitas konten di media mampu membentuk persepsi publik tentang isu yang dianggap penting. Ketika linimasa dipenuhi promosi fun run, kisah transformasi tubuh, hingga pencapaian personal, lari tampil sebagai aktivitas yang relevan, modern, dan bernilai. Paparan berulang menciptakan kesan bahwa hidup aktif adalah norma baru masyarakat digital.

    Tak hanya itu, Teori Uses and Gratifications melihat individu sebagai subjek aktif yang memanfaatkan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Dalam tren lari, media sosial menjadi ruang aktualisasi diri sekaligus pencarian pengakuan. Unggahan jarak tempuh, medali finisher, atau progres latihan bukan sekadar dokumentasi, melainkan komunikasi simbolik yang mengundang respons. Likes, komentar dan fitur kudos menjadi penguat sosial yang mendorong konsistensi.

    Lari sebagai Identitas

    Artikel ilmiah tentang fenomena “Pelari Kalcer” dalam JIMU (2025) menunjukkan bahwa lari kini dipahami sebagai konstruksi identitas. Sepatu edisi khusus, partisipasi dalam ajang populer, hingga representasi digital menjadi bagian dari citra diri. Tubuh yang berlari tak hanya bergerak, tetapi juga menyampaikan pesan.

    Teori Identitas Sosial menjelaskan bahwa komunitas lari menyediakan ruang afiliasi dan solidaritas. Identitas sebagai “runner” memberi rasa memiliki yang diperkuat oleh interaksi daring maupun luring. Media sosial memperluas jejaring ini, menjadikan pengalaman berlari bersifat kolektif dan terhubung lintas wilayah.

    Antara Inspirasi dan Simbol Status

    Di sisi lain, konsep cultural capital dari Pierre Bourdieu membantu membaca bagaimana atribut tertentu dalam dunia lari dapat berfungsi sebagai simbol status. Sepatu edisi terbatas, jam lari berteknologi tinggi, hingga keikutsertaan dalam lomba prestisius berpotensi menciptakan diferensiasi sosial. Olahraga yang sejatinya sederhana bisa terjebak dalam logika representasi dan konsumsi.

    Meski demikian, pengaruh media sosial tidak melulu bersifat simbolik. Dalam kerangka Teori Pembelajaran Sosial yang diperkenalkan Albert Bandura, individu belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap relevan. Paparan konsisten terhadap konten hidup aktif berpotensi membentuk norma positif. Ketika figur publik maupun teman sebaya membagikan kebiasaan berlari, partisipasi yang lebih luas pun terdorong mendukung agenda kesehatan masyarakat.

    Menjaga Esensi

    Pergeseran dari timeline ke track menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar medium informasi, melainkan ruang pembentuk makna, identitas dan aspirasi. Namun agar transformasi ini tetap konstruktif, ada beberapa catatan penting.

    Pertama, komunitas dan penyelenggara kegiatan lari perlu menekankan inklusivitas agar olahraga ini tidak terkesan eksklusif. Kedua, media massa dapat memperkuat narasi edukatif tentang keamanan dan keberlanjutan latihan, bukan semata sisi tren. Ketiga, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar mampu memaknai konten secara kritis dan tidak menjadikan pengakuan sosial sebagai satu-satunya motivasi.

    Pada akhirnya, perubahan dari timeline ke track mencerminkan cara masyarakat digital membangun makna atas tubuh, kesehatan dan eksistensi. Media sosial dapat menjadi ruang inspirasi sekaligus kompetisi yang halus. Ia mampu mendorong langkah pertama, tetapi juga berpotensi menggeser orientasi menjadi pencitraan.

    Yang perlu dijaga bukan hanya konsistensi berlari, melainkan kejernihan niat di baliknya. Jika media sosial dimanfaatkan sebagai sarana berbagi dan saling menguatkan, setiap kilometer yang ditempuh bukan hanya memperpanjang jarak, tetapi juga memperdalam kesadaran akan pentingnya hidup sehat yang otentik dan berkelanjutan.

    Penulis opini

    Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta

    Car free day Fun run Opini
    Follow on Google News Follow on Flipboard
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleFakultas Strategi Pertahanan Unhan RI Perkuat Akar Ketahanan Nasional di Jonggol Melalui Nilai Bela Negara dan Kearifan Lokal
    Next Article Mahalini Guncang Istora Senayan dalam “KOMA Live in Concert”, Tandai Debut Pasca-Melahirkan
    AIN

    Related Posts

    Duka Jakim 2026, Satu Pelari Meninggal dan Banyak Peserta Tumbang

    Juni 15, 2026

    Jelang 1 Muharram, Makna Hijrah Jadi Cermin Kepemimpinan Strategis

    Juni 14, 2026

    Warga Punya Waktu Lebih Panjang, CFD Jakarta Terapkan Jam Operasional Baru Mulai 7 Juni

    Juni 6, 2026

    7 Event Digelar Serempak di Kawasan GBK Akhir Pekan Ini, Jangan Sampai Terjebak Macet

    Juni 4, 2026

    “Aku Rindu Betul Sama Kalian”, Pesan Indro untuk Sahabat Warkop DKI

    Juni 4, 2026

    Puncak Arus Balik, Lebih dari 41 Ribu Penumpang Kereta Tiba di Jakarta

    Juni 1, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Kejagung Bongkar Dugaan Mark Up MBG, Semua Pengadaan BGN Diusut

    By MartinJuni 15, 2026

    JAKARTA – Kejaksaan Agung memeriksa seluruh pengadaan barang di Badan Gizi Nasional (BGN) terkait dugaan…

    Purbaya Belum Pastikan Efisiensi MBG, Anggaran Masih Dihitung Ulang

    Juni 15, 2026

    Presiden Jerman Tiba di Jakarta, Agenda Strategis dengan Prabowo di Istana

    Juni 15, 2026
    Top Trending

    Duka Jakim 2026, Satu Pelari Meninggal dan Banyak Peserta Tumbang

    By MartinJuni 15, 2026

    JAKARTA – BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 di Jakarta diwarnai banyak…

    Kejagung Bongkar Dugaan Mark Up MBG, Semua Pengadaan BGN Diusut

    By MartinJuni 15, 2026

    JAKARTA – Kejaksaan Agung memeriksa seluruh pengadaan barang di Badan Gizi Nasional…

    Presiden Jerman Tiba di Jakarta, Agenda Strategis dengan Prabowo di Istana

    By MartinJuni 15, 2026

    JAKARTA – Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Ibu Elke Büdenbender…

    © 2026 RASIONAL.CO
    • Privacy Policy
    • Terms of Service
    • Extra Crunch Terms
    • Code of Conduct

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?