Jakarta – Akhir pekan pagi, kawasan car free day dipenuhi ratusan pelari dengan sepatu warna-warni dan jam pintar di pergelangan tangan. Sebagian berlari santai, sebagian lain fokus mengejar target ritme. Namun sebelum keringat mengering, aktivitas itu kerap lebih dulu hadir di linimasa media sosial mulai dari tangkapan layar aplikasi lari seperti Strava, foto outfit run, hingga video pendek bertagar morning miles.
Fenomena ini menandai pergeseran menarik: dari timeline ke track. Apa yang awalnya viral di media sosial kini menjelma menjadi praktik nyata di ruang publik. Lari bukan lagi sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari gaya hidup yang dibangun, diceritakan dan dibagikan.
Media Sosial Membentuk Persepsi
Dalam perspektif Teori Agenda Setting, intensitas konten di media mampu membentuk persepsi publik tentang isu yang dianggap penting. Ketika linimasa dipenuhi promosi fun run, kisah transformasi tubuh, hingga pencapaian personal, lari tampil sebagai aktivitas yang relevan, modern, dan bernilai. Paparan berulang menciptakan kesan bahwa hidup aktif adalah norma baru masyarakat digital.
Tak hanya itu, Teori Uses and Gratifications melihat individu sebagai subjek aktif yang memanfaatkan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Dalam tren lari, media sosial menjadi ruang aktualisasi diri sekaligus pencarian pengakuan. Unggahan jarak tempuh, medali finisher, atau progres latihan bukan sekadar dokumentasi, melainkan komunikasi simbolik yang mengundang respons. Likes, komentar dan fitur kudos menjadi penguat sosial yang mendorong konsistensi.
Lari sebagai Identitas
Artikel ilmiah tentang fenomena “Pelari Kalcer” dalam JIMU (2025) menunjukkan bahwa lari kini dipahami sebagai konstruksi identitas. Sepatu edisi khusus, partisipasi dalam ajang populer, hingga representasi digital menjadi bagian dari citra diri. Tubuh yang berlari tak hanya bergerak, tetapi juga menyampaikan pesan.
Teori Identitas Sosial menjelaskan bahwa komunitas lari menyediakan ruang afiliasi dan solidaritas. Identitas sebagai “runner” memberi rasa memiliki yang diperkuat oleh interaksi daring maupun luring. Media sosial memperluas jejaring ini, menjadikan pengalaman berlari bersifat kolektif dan terhubung lintas wilayah.
Antara Inspirasi dan Simbol Status
Di sisi lain, konsep cultural capital dari Pierre Bourdieu membantu membaca bagaimana atribut tertentu dalam dunia lari dapat berfungsi sebagai simbol status. Sepatu edisi terbatas, jam lari berteknologi tinggi, hingga keikutsertaan dalam lomba prestisius berpotensi menciptakan diferensiasi sosial. Olahraga yang sejatinya sederhana bisa terjebak dalam logika representasi dan konsumsi.
Meski demikian, pengaruh media sosial tidak melulu bersifat simbolik. Dalam kerangka Teori Pembelajaran Sosial yang diperkenalkan Albert Bandura, individu belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap relevan. Paparan konsisten terhadap konten hidup aktif berpotensi membentuk norma positif. Ketika figur publik maupun teman sebaya membagikan kebiasaan berlari, partisipasi yang lebih luas pun terdorong mendukung agenda kesehatan masyarakat.
Menjaga Esensi
Pergeseran dari timeline ke track menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar medium informasi, melainkan ruang pembentuk makna, identitas dan aspirasi. Namun agar transformasi ini tetap konstruktif, ada beberapa catatan penting.
Pertama, komunitas dan penyelenggara kegiatan lari perlu menekankan inklusivitas agar olahraga ini tidak terkesan eksklusif. Kedua, media massa dapat memperkuat narasi edukatif tentang keamanan dan keberlanjutan latihan, bukan semata sisi tren. Ketiga, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar mampu memaknai konten secara kritis dan tidak menjadikan pengakuan sosial sebagai satu-satunya motivasi.
Pada akhirnya, perubahan dari timeline ke track mencerminkan cara masyarakat digital membangun makna atas tubuh, kesehatan dan eksistensi. Media sosial dapat menjadi ruang inspirasi sekaligus kompetisi yang halus. Ia mampu mendorong langkah pertama, tetapi juga berpotensi menggeser orientasi menjadi pencitraan.
Yang perlu dijaga bukan hanya konsistensi berlari, melainkan kejernihan niat di baliknya. Jika media sosial dimanfaatkan sebagai sarana berbagi dan saling menguatkan, setiap kilometer yang ditempuh bukan hanya memperpanjang jarak, tetapi juga memperdalam kesadaran akan pentingnya hidup sehat yang otentik dan berkelanjutan.
Penulis opini
Ikhtiar Dwiky Asya, Mahasiwa Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta

