JAKARTA — Ketegangan geopolitik global akibat konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memengaruhi dinamika energi, termasuk di dalam negeri. Namun di tengah potensi tekanan harga minyak dunia, sebagian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia justru menunjukkan stabilitas terbatas.
Fenomena ini menandakan adanya upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga domestik dan tekanan eksternal, meski tidak merata di seluruh jenis BBM.
Pertamax Stabil, Kenaikan Terjadi pada BBM Diesel
Harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green di SPBU PT Pertamina (Persero) terpantau tidak mengalami perubahan. Berdasarkan data resmi per April 2026, Pertamax tetap di level Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green berada di Rp12.900 per liter.
Namun, kenaikan signifikan terjadi pada sejumlah produk BBM lain, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan industri dan logistik. Pertamax Turbo tercatat naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100. Sementara itu, Dexlite meningkat menjadi Rp23.600 dari Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex naik ke Rp23.900 dari Rp14.500 per liter.
Untuk BBM bersubsidi, harga masih relatif stabil dengan Pertalite di Rp10.000 per liter dan Solar subsidi sebesar Rp6.800 per liter.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga lebih terasa pada BBM berbasis diesel yang memiliki keterkaitan erat dengan sektor distribusi dan transportasi barang.
SPBU Swasta Ikuti Tren, Kelangkaan Mulai Terjadi
Kenaikan harga juga terjadi di SPBU swasta. Di jaringan BP, harga BP Ultimate berada di Rp12.930 per liter dan BP 92 di Rp12.390 per liter. Sementara BP Ultimate Diesel mengalami lonjakan menjadi Rp25.560 per liter dari sebelumnya Rp14.620 per liter.
Di sisi lain, Shell dan Vivo Energy belum melakukan penyesuaian harga sejak awal Maret 2026. Namun, keduanya mulai menghadapi kendala pasokan, terutama untuk BBM jenis solar dan RON 95.
Harga BBM di SPBU Shell tercatat masih berada di Rp12.390 per liter untuk Shell Super dan Rp14.620 per liter untuk V-Power Diesel. Sementara itu, SPBU Vivo menetapkan harga Revvo 92 sebesar Rp12.390 per liter, Revvo 95 Rp12.930 per liter, dan Diesel Primus Rp14.610 per liter.
Kelangkaan stok yang mulai terjadi di sejumlah SPBU swasta menandakan adanya tekanan pasokan di tengah dinamika global.
Dampak ke Logistik dan Stabilitas Harga Domestik
Kenaikan harga BBM diesel berpotensi memberikan dampak langsung terhadap biaya logistik nasional. BBM jenis ini menjadi tulang punggung distribusi barang, sehingga setiap kenaikan akan berimbas pada biaya transportasi dan harga komoditas.
Di sisi lain, stabilnya harga Pertamax menunjukkan adanya upaya menahan tekanan pada konsumsi masyarakat kelas menengah. Namun, ketidakseimbangan antara harga BBM bensin dan diesel mengindikasikan bahwa tekanan global lebih besar pada sektor energi yang berkaitan dengan industri dan distribusi.
Dengan kondisi ini, arah kebijakan energi nasional ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga pasokan sekaligus meredam dampak kenaikan harga global terhadap ekonomi domestik.

