Jakarta – Film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) garapan Palari Films mengangkat isu krusial mengenai perjuangan buruh perempuan dan standar keselamatan kerja di Indonesia.
Aktris Rachel Amanda memerankan karakter utama bernama Putri, seorang buruh yang terjebak dalam pusaran eksploitasi di pabrik aksesoris rambut demi melunasi utang keluarga.
Melalui genre horor fantasi, sutradara Edwin memotret realitas kelam di balik jam kerja yang ekstrem dan sistem insentif yang mengabaikan hak istirahat pekerja.
Putri memutuskan masuk ke lingkungan kerja yang sama dengan mendiang ibunya untuk mencari jawaban atas kematian misterius sang ibu.
“Putri mendatangi pabrik tempat ibunya bekerja dan kemudian bekerja di sana,” jelas Rachel Amanda, Senin (20/4).
Karakter ini merepresentasikan semangat sekaligus kerentanan buruh perempuan yang harus berhadapan dengan sistem kerja yang eksploitatif setiap hari.
Misteri Kematian dan Tekanan Ekonomi
Cerita berkembang saat Putri dan saudara perempuannya, Ida (Lutesha), menemukan kejanggalan di dalam pabrik.
Sementara Putri meyakini kematian ibunya berkaitan dengan kondisi kerja yang ekstrem, Ida justru mencurigai adanya unsur supranatural yang muncul akibat kelelahan berat.
Tekanan ekonomi memaksa para pekerja mengabaikan risiko keselamatan demi mengejar target produktivitas, sebuah fenomena yang sering kali berujung pada kecelakaan kerja fatal.
Tanggung Jawab Kolektif Keselamatan Kerja
Iqbaal Ramadhan, yang bertindak sebagai produser eksekutif sekaligus pemeran karakter Bona, menekankan bahwa keamanan di lingkungan kerja merupakan tanggung jawab dua arah.
“Perusahaan dan pekerja memiliki peran yang sama besar terhadap situasi keselamatan kerja, it takes two to tango,” tegas Iqbaal.
Ia menyoroti pentingnya perusahaan menyediakan alat pelindung diri dan kewajiban pekerja mematuhi prosedur yang ada untuk menghindari tragedi.
Film yang dijadwalkan tayang pada 4 Juni 2026 ini menggunakan efek praktikal untuk menghadirkan ketegangan visual yang nyata. Dengan memadukan kritik sosial dan elemen horor, karya ini menantang penormalan terhadap risiko kerja yang selama ini dianggap biasa di lingkungan industri.

