Jakarta – Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Barat kini tengah gencar memetakan sejumlah titik saluran air yang menjadi habitat ikan sapu-sapu guna melakukan pembasmian massal spesies invasif tersebut.
Langkah ini menjadi prioritas mengingat keberadaan ikan “pembersih kaca” ini mulai mengancam ekosistem lokal dan merusak infrastruktur vital di wilayah Jakarta Barat.
Ancaman Kerusakan Tanggul dan Ekosistem
Sudin KPKP Jakarta Barat mengidentifikasi beberapa lokasi strategis yang menjadi sarang populasi ikan ini. Wilayah tersebut mencakup Cengkareng Drain, Kali Semongol, hingga kawasan di sekitar Sekolah Narada. Secara total, petugas telah mengantongi titik-titik potensial di delapan kecamatan untuk ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
Kepala Seksi Perikanan Sudin KPKP Jakarta Barat, Aas Asih, menegaskan bahwa tindakan ini tidak boleh hanya berhenti pada satu kali aksi.
“Kita, harapannya, kegiatan tidak seremonial saja, ya, ada kelanjutannya, gitu. Titik-titiknya kan sudah kita petakan,” ujar Aas saat memberikan keterangan resmi di Jakarta.
Bahaya Logam Berat dan Bakteri
Selain merusak ekosistem dengan mendesak populasi ikan lokal, ikan sapu-sapu memiliki kebiasaan membuat lubang pada dinding turap. Perilaku melubangi tembok untuk tempat tinggal ini secara perlahan membuat konstruksi turap rapuh dan rentan jebol.
Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat oknum yang masih memburu ikan ini untuk diolah menjadi bahan makanan seperti siomay. Padahal, ikan yang hidup di saluran air tercemar ini mengandung zat berbahaya bagi tubuh manusia.
“Dikhawatirkan, kalau ada masyarakat yang mengkonsumsi itu secara terus-menerus, dia (logam berat) terakumulasi, makanya mesti dibasmi,” pungkas Aas.
Ia menambahkan bahwa kandungan bakteri E. Coli, Salmonella, hingga logam berat seperti timbal pada ikan tersebut sangat berisiko bagi kesehatan masyarakat jika masuk ke rantai konsumsi.

