Jakarta, Rasional.co – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut konsumsi protein anak meningkat hingga hampir 80 persen seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pernyataan tersebut belum disertai penjelasan mengenai sumber data, metode pengukuran, dan periode yang menjadi dasar perbandingan.
“Konsumsi protein itu kemudian dengan MBG ini konsumsi protein anak-anak itu kemudian juga naik dari kalau nggak salah dari 30 atau 40, 30-an persen itu kemudian naik menjadi hampir 80 persen,” ujar Sudaryono setelah meninjau pembagian MBG di SDN Cot Meuraja, Aceh Besar, Selasa (13/10/2026).
Pernyataan tersebut menempatkan peningkatan konsumsi protein sebagai salah satu dampak yang dikaitkan dengan pelaksanaan MBG. Meski demikian, angka awal yang disebut Sudaryono masih berupa perkiraan, sehingga besaran perubahan konsumsi protein belum dapat dipastikan hanya berdasarkan keterangan tersebut.
Selain konsumsi protein, Sudaryono menyebut persentase siswa yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar kini berada di angka 14 persen. Namun, keterangan yang disampaikan tidak merinci angka sebelumnya maupun periode pengukuran yang digunakan untuk menilai kondisi tersebut.
MBG Juga Diarahkan untuk Edukasi Gizi
Sudaryono mengingatkan bahwa kebutuhan gizi anak tidak dapat disamaratakan berdasarkan kondisi di ibu kota atau kota-kota besar. Menurutnya, penilaian terhadap pelaksanaan program perlu mempertimbangkan kondisi peserta didik secara keseluruhan di berbagai wilayah Indonesia.
“Kita tidak bisa mengukur keadaan siswa itu berdasarkan keadaan siswa yang ada di ibu kota atau di kota-kota besar. Ini secara agregat keseluruhan seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Selain menyediakan makanan, MBG juga diharapkan menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang. Dalam hal ini, guru dinilai memiliki peran untuk membantu peserta didik memahami alasan perlunya mengonsumsi makanan yang beragam, termasuk sayur dan buah.
“Bukan kok kita ngasih makan gurunya bukan, tapi gurunya diberikan untuk dalam rangka edukasi gizi. Kenapa mesti ada serat, sayur, buah, kenapa mesti makan sayur, anak-anak kenapa nggak suka sayur harus suka sayur dan lain sebagainya,” jelas Sudaryono.
Melalui edukasi di lingkungan sekolah, pemahaman mengenai pola makan sehat diharapkan tumbuh sejak dini dan terbawa hingga ke lingkungan keluarga. Dengan demikian, pelaksanaan MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bagi peserta didik, tetapi juga pembentukan kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

