4. Senyap / The Look of Silence (2014)
Usai sukses dengan Jagal, sutradara Joshua Oppenheimer kembali lewat Senyap. Film ini mengambil sudut pandang Adi Rukun, seorang tukang kacamata yang kakaknya (Ramli) tewas dibantai pada gejolak 1965.
Dengan tenang namun berani, Adi mendatangi langsung para pembunuh kakaknya sembari memeriksa mata mereka, lalu meminta pengakuan atas tragedi masa lalu. Film ini memotret secara tajam rasa takut dan kepedihan keluarga korban yang dipaksa bungkam puluhan tahun.
5. Jagal / The Act of Killing (2012)
Karya fenomenal Joshua Oppenheimer ini membalik gaya dokumenter pada umumnya. Bukannya mewawancarai korban, Jagal justru memberi panggung kepada para mantan algojo pembantai massa di Sumatera Utara untuk menceritakan kembali aksi mereka.
Secara mengejutkan, para pelaku dengan bangga merekonstruksi adegan pembunuhan lewat beragam genre film pilihan mereka sendiri. Hasilnya adalah sebuah tontonan yang amat ganjil, merinding, dan memperlihatkan bagaimana sebuah kejahatan kemanusiaan dipandang oleh pelakunya.
6. Dokumenter BBC: “Tanpa Pelurusan Sejarah, Kami Tetap Merasa Tidak Aman”
Dokumenter produksi BBC ini menelusuri jejak luka 1965 yang diwariskan ke generasi penerus. Cerita diangkat melalui penuturan anak-cucu korban, salah satunya Tatiana Lukman, putri dari pimpinan PKI M.H. Lukman.
Laporan ini membuka mata bahwa dosa politik masa lalu kerap kali menjadi beban sejarah yang harus dipikul oleh keturunan yang sama sekali tidak terlibat.
7. Dokumenter BBC: “Saya Membunuh Terlalu Banyak Orang”
Satu lagi dokumenter dari BBC yang menyejajarkan dua kesaksian ekstrem secara berdampingan. Di satu sisi ada penyintas yang selamat secara ajaib setelah dibuang ke jurang, sedangkan di sisi lain ada mantan anggota paramiliter yang mengaku telah mengeksekusi banyak orang.
Konfrontasi narasi ini memperlihatkan betapa dalamnya jurang perbedaan pengalaman yang dirasakan oleh korban dan pelaku dalam satu peristiwa yang sama.

