Sejumlah masalah yang disoroti antara lain lahan pertanian yang belum bersertifikat, keterbatasan kepemilikan lahan, akses terhadap bibit unggul dan pupuk, serta keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan). Persoalan juga muncul setelah masa tanam, petani masih menghadapi risiko gagal panen, produktivitas yang rendah dan kebutuhan pendampingan. Bahkan ketika produksi meningkat, persoalan berikutnya adalah akses pasar dan harga jual yang menguntungkan.
Karena itu, dia ingin program HKTI tidak berhenti pada pendampingan, tetapi memiliki ukuran yang jelas terhadap perubahan kondisi petani. Salah satu gagasan yang disiapkan adalah proyek percontohan dengan melibatkan 100 petani di setiap kabupaten dan kota di Maluku Utara. Melalui proyek tersebut, petani akan didampingi sekaligus diukur dampaknya, mulai dari peningkatan produktivitas, penurunan biaya produksi, akses terhadap harga jual yang lebih baik hingga peningkatan kesejahteraan.
“Kita mungkin bisa mengambil pilot project 100 petani di masing-masing kabupaten kota. Dengan adanya pendampingan dari HKTI, kita mengecek apakah memang produktivitasnya naik, apakah memang biayanya turun,” kata Sherly.
“Apakah memang mereka mendapatkan harga terbaik, dan apakah dengan pendampingan HKTI nanti mereka bisa lebih sejahtera, mereka bisa mendapatkan cuan yang lebih banyak,” lanjutnya.
Dorong Petani Terhubung Langsung dengan Pasar
Gubernur Maluku Utara ke-3 ini juga menekankan pentingnya membangun ekosistem pemasaran agar petani tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki kepastian pasar.
Jika Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih berjalan, koperasi tersebut diharapkan dapat mengambil peran sebagai offtaker hasil pertanian. HKTI juga membuka peluang kerja sama dengan koperasi yang telah berjalan serta dunia usaha melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
“Siapa tahu Kadin mempunyai list pengusaha-pengusaha yang bisa menjadi offtaker yang bisa kita connect-kan,” kata Sherly.
Menurutnya, peningkatan produktivitas belum cukup apabila petani masih kesulitan menjual hasil panennya dengan harga yang layak. Karena itu, penguatan rantai pasok dan akses pasar menjadi bagian penting dari agenda HKTI Maluku Utara.

